6 Mei 2017

Tudung Lingkup, Manto dan Perempuan Melayu Yang Berkesenian

By Admin Web In Budaya
sambas 1

Perempuan Melayu Sambas menggunakan Tudung Lingkup. Foto ini diambil di Museum Sambas dokumentasi milik Suhana Sarkawi

Tudung Lingkup, Manto dan Perempuan Melayu Yang Berkesenian

Cara berpakaian menjadi salah satu bagian dalam pola kehidupan orang-orang melayu. Beragam jenis dan memiliki kekhasan di semenanjung melayu yang terbentang begitu luas. Tak elak, hal ini juga berlaku di Daik. Dimana, perempuan-perempuan melayu menggunakan Tudung Lingkup dan Manto sebagai identitas.

Pola yang telah berlangsung turun menurun, soal cara berpakaian ini telah berlangsung ratusan tahun. Berpakaian merupakan aspek budaya benda, membuktikan kewibawaan adat istiadat wilayah melayu dalam cakupan kebudayaan melayu khususnya. Dalam (Hikayat Hang Tuah 1966,51) cara melayu berpakaian adalah kesinambungan pola asas yang berkembang di Istana kerjaan melayu Malaka pada zaman keagungannya di kepulauan melayu hampir 100 Tahun sebelum Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511). Perkembangannya terus menerus hingga semenanjung dan era kesultanan Johor-Pahang-Riau dan Lingga yang berpusat ibukota di Daik, Darrulbirri Wadarussalam juga menjadi pola dasar masyarakat melayu secara luas. Cara berpakaian ini pula, berkembang pesat di Daik, saat itu setalah di pindahkannya pusat kesultanan melayu oleh Sultan Mahmud Riayat Syah III pada 1787 sampai 1901.

Beberapa jenis dan pola berpakaian yang masih digunakan sebagian perempuan melayu saat ini di Daik, ialah Tudung Lingkup dan Tudung Manto. Kata Tudung, berarti penutup kepala, mirip seperti Hijab saat ini. Namun memiliki corak dan kekhasan, yang menjadi identitas perempuan melayu Daik.
Tudung Lingkup dan Manto

Pada era sekarang ini, melihat perempuan melayu menggunakan Tudung Lingkup sangatlah susah. Informasi terakhir, hanya tersisa tiga orang saja perempuan melayu yang masih meneruskan budaya ini. Sementara generasi muda perempuan melayu yang kekinian telah berubah cara berpakaian dan lazim, menutup aurat dan menggunakan hijab seperti kebanyakan orang.

Mengenal lebih jauh Tudung Lingkup, penulis mendapat kesempatan mewawancarai salah seorang penggiat dan peneliti pakaian tradisioanl Melayu Semenanjung, Suhana Sarkawi yang lebih akrab di sapa Kak Su. Ia adalah salah seorang mahasiswa pascasarjana di University of Malaya yang beberapa waktu lalu sengaja datang ke Daik, untuk mencari data dan melihat langsung bagaimana cara orang melayu Daik berpakaian. Berikut wawancara dengan Kak Su.

Apa itu Tudung Lingkup dalam Dunia Melayu? Bagaimana Penggunaannya?

Elmustian Rahman (2003) mengatakan bahawa ‘ada benda ada maknanya, ada cara ada ertinya, dan ada letak ada sifatnya’. Itulah simbolik pakaian orang Melayu.

Secara etimologinya, ‘tudung lingkup’ ini bererti kain yang menutupi kepala dan muka seorang perempuan, dan ada yang menyifatkannya sebagai seperti tudung. Penggunaan ‘tudung lingkup’ ini juga sebagai petanda bahawa perempuan tersebut sudah memasuki alam gadis, usia ‘angkat dara’ atau sudah bersedia untuk dinikahi. Pemakaian Tudung lingkup ini luas di alam Melayu khasnya di Jambi, Daik, Johor, Tumasek (Singapura lama), selatan Sarawak dan Sambas.

Terdapat tiga cara umum stail pemakaian tudung lingkup dan makna yang ada di sebaliknya. Jika perempuan tersebut ingin ke luar rumah aturan pemakaiannya adalah seperti berikut. Pertama, keseluruhan wajah dan atasan badan kecuali mata disarungkan dengan Tudung lingkup menandakan si pemakai masih perawan. Hal ini amat langka kerana anak gadis di zaman dulu tidak dibenarkan keluar rumah tanpa izin ibu bapak atau tanpa atas alasan kukuh. Menjemur pakaian pun semua dikerjakan di dalam rumah. Jika tetamu berkunjung ke rumah, pemakaian Tudung lingkup dikenakan ke atas perempuan perawan untuk mengelakkan mereka daripada dilihat, khasnya oleh tetamu lelaki yang bukan muhrim.

Kedua, keseluruhan muka kecuali mata atau kadang-kadang hidung pemakai boleh dinampakkan tetapi seluruh atasan badan ditutup dalam Tudung lingkup menandakan perempuan itu sudah bersuami.

Ketiga, keseluruhan muka pemakai boleh dinampakkan dan Tudung lingkup dipakai longgar di atas kepala serta atasan badan masih berada dalam sarung Tudung lingkup itu menandakan perempuan tersebut sudah bercucu atau lanjut usia. Bagian hujung bawah Tudung lingkup adakalanya dikepit atau ‘ditekuk’ di bawah ketiak atau dikemaskan secara diognal merentasi dada si pemakai dari kiri ke kanan atau sebaliknya untuk menahannya dari tersingkap atau jatuh dari kepala.

Di alam Melayu khasnya di Riau, Tudung dipakaikan dengan dua cara yaitu: dipakaikan di kepala dan berjuntai ke samping kiri atau kanan atau berjurai ke dada. Dipakaikan dengan cara Islami dengan gaya Tudung lingkup yang mirip cadar perempuan Arab.

Pada tahun 1908-an, masih terdapat perempuan Kelantan yang memakai stail/stael 3-helai pakaian: kemban (atasan), kain (bawahan) dan kelubung (selendang panjang). Kelubung ini berfungsi melindungi kepala dan bahu dari terkena panas (Zubaidah, 1994). Kelubung juga menjadi seolah-olah ‘Tudung lingkup’ yang berbentuk kain panjang. Tidak pula ada penerangan mendalam perihal tata cara pemakaian kelubung ini seperti yang lazim diguna pakai oleh orang Melayu Riau & Daik serta orang Melayu Sarawak.

Almarhumah Tunku Ampuan Mariam, Permaisuri Pahang yang berasal dari Kesultanan Johor memakai busana baju kurung dan kain dagang luar. Kain dagang luar ini diikat di pinggang setelah ia disarungkan di kepala sebagai Tudung lingkup.

Siti Zainon (2009: 64) menghuraikan bahawa terdapat 4 reka bentuk pakaian Melayu mengikut budaya zaman. Pertama, Budaya zaman Neolitik-Dongson (Prasejarah). Kedua, Budaya Zaman Hindu-Buddha (Langkasuka- Seriwijaya). Ketiga, Budaya zaman Melaka (Islam) dan ke-empat, Gabungan budaya Zaman Melayu (Kerajaan Johor-Riau dan kesinambungannya). Evolusi pemakaian 3-helai hingga 5 helai kain menunjukkan pengaruh Islami dari Zaman Melaka hingga ke zaman kegemilangan Empayar Johor-Riau. Selaras dengan perintah Sultan Mansur yang memerintah Kelantan (1890-1899), perempuan Kelantan dititahkan pemakaian kemban tidak disukainya dan jika ingin berkemban ketika keluar dari rumah, badan perempuan perempuan tersebut hendaklah dilumurkan lumpur (Zubaidah, 1994: 8).

Cara pemakaian seperti ini amat mirip dengan cara pemakaian selempang dan kain dagang luar Melayu Sarawak, Sambas dan Brunei. Pada tahun 1937, perempuan Sambas masih memakai Tudung lingkup berbahan songket.

Begitu juga orang Melayu Sarawak juga menggunakan kain songket atau kain batik sebagai selempang dan Tudung lingkup tergantung kemampuan ekonomi seseorang atau keluarga pemakai.

Pakaian orang Melayu merupakan suatu simbol identitas, status, jati diri, keperibadian, keluhuran peradaban budaya dan masyarakat serta dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Pakaian juga dikaitkan dengan penutup aib, penjemput budi, penolak bala dan penjunjung bangsa.

tudung lingkup di museum sambas foto suhana perempuan singapura

Perempuan Singapura tempo dulu dari www.sabrizain.org/malaya/gallery/portraits/134674.jpg (f. suhana)

Bagaimana pula dengan Tudung Manto dan Keringkam, apakah ada perbedaan yang mencolok?

Tidak banyak perbedaannya keringkam Melayu Sarawak dan Tudung Manto Daik dari segi bahan baku. Kedua-duanya menggunakan benang kelingkan, jarum berlubang dua dan pembidang kain.

Dari segi teknik, sulaman keringkam Sarawak lebih rumit jika dibanding Manto. Sulaman manto menggunakan teknik sulam selit manakala teknik sulaman manto menggunakan teknik sulam kira-sulam-ulang. Teknik keringkam akan menghasilkan ruang geometrik pada sulaman Tudung Keingkam.

Walaupun bahan baku yang sama, jenis benang juga berbeda. Di Daik, benang kelingkan perak lebih digemari manakala di Sarawak, benang suasa atau perak yang bersalut emas lebih diminati. Tak jarang ada juga yang memilih benang perak atau tonji untuk Tudung keringkam.

Pemilihan materi kain pula, orang Daik lebih suka menggunakan kain sifon atau kain sari manakala orang Melayu Sarawak menggunakan kain kasa rubia atau kain bawal. Jika kita bandingkan dengan penggunaan materi Tudung zaman dulu dan sekarang, tidak banyak bedanya antara orang Daik dan orang Sarawak. Mereka menggunakan kain kapas atau bawal dan kain georgette. Ada juga orang yang menggunakan kain benang sutera.

Motif dominan kategori utama di Sarawak ialah Bunga ros kuncup, manakala di Daik motif dominannya bunga teratai atau bunga yang sedang mekar. Motif dominan kategori bunga tabur adalah mutu dan bunga tanjung.

Di wilayah melayu mana saja yang menghasilkan Tudung Manto atau Kelingkan ini?

Wilayah Melayu di kepulauan Melayu mempunyai Tudung kelingkan atau mantonya sendiri. Tidak kurang juga dengan penggunaan kelingkan dalam kalangan bangsawan dan Raja Melayu lelaki. Kelingkan tidak sahaja digunakan sebagai bahan utama keringkam atau Manto, tetapi juga pada busana Melayu yang berstatus tinggi seperti bangsawan, kesultanan dan pedagang melayu.

Palembang, Inderagiri, Daik, Kotogadang, Terengganu, Kelantan, Johor, Kedah, Makassar, Sumbawa, Pontianak, Sanggau, Sintang, Sarawak dan Brunei juga menggunakan Tudung kelingkan. Namun, ia di gerbang kepupusan. Yang masih aktif memproduksi Tudung ini hingga ke saat ini adalah Palembang, Inderagiri, Daik, Kelantan, Sintang dan Sarawak saja yang masih melestarikannya. Mungkin kerana ketiadaan pengrajin.

Cara pemakaian Tudung manto dan keringkam berserta Tudung lingkup jika kita soroti melalui foto dan pemerhatian saya sepanjang membuat kajian ini menunjukkan cara pemakainya amat mirip sekali. Tudung manto atau keringkam akan diletakkan di atas bahu di dalam Tudung lingkup semasa berjalan ke acara dan apabila sudah sampai di tempat acara. Tudung lingkup digunakan sebagai selempang atau kain dagang luar dan manto atau keringkam akan diletakkan di atas kepala.

Bedanya dengan makna pemakaian Tudung keringkam di Sarawak dan Daik adalah dari perspektif status perkahwinan si pemakai. Di Sarawak, tidak semestinya yang memakai keringkam itu sudah berpunya walaupun lazimnya, si pemakai sudah berpunya pasangan hidup. Ia lebih kepada status ekonomi dan latar belakang keluarga si pemakai. Semakin meriah atau maraknya sulaman kelingkan pada Tudung keringkam, semakin tinggi status ekonomi perempuan tersebut

Apakah masih tinggi hari ini minat orang melayu terhadap Tudung Manto dan Kelingkan?

Semuanya ada kemungkinan untuk menyebarluaskan Tudung manto ini di semenanjung melayu. Tradisi moden sudah sekian lama menguasai acara perkahwinan orang Melayu Semenanjung Melayu malah juga meluas di Sarawak. Yang tahu menghargai manto atau keringkam sahaja yang boleh memaknakan pemakaian Tudung tersebut. Keringkam tidak hanya dipakai semasa acara penikahan oleh pengantin perempuan tetapi juga perempuan yang menghadiri acara, peserta khataman Qur’an maupun diletakkan di atas kepala keranda saat kematian.

Margaret (1986: 27) juga menerangkan cara pemakaian Melayu Sarawak juga sangat mirip dengan pakaian Melayu Daik.

Manto boleh diperkenalkan semula ke semenanjung Melayu terutamanya di wilayah Johor dan Pahang atas hubungan sejarah dan kesultanan. Keringkam pula diminati oleh golongan atas di Malaysia kerana harganya amat lumayan sekali dan tidak mudah bagi orang kebanyakan untuk membelinya kecuali atas sebab ingin melestarikan budaya Melayu dan status sosial yang berubah.

Saudara Fadli dari Daik juga ada berusaha memasaarkan manto ke luar dari Daik melalui seorang pengusaha yang berdomilisi di Batam bernama Pak Herry melalui pesanan online. Jika ada jaringan pedagangan yang kukuh dan terpercaya, manto akan mudah dipasarkan di Malaysia kerana ketimbang harga manto dan keringkam, harga manto lebih terjangkau dan sulamannya tidak kalah cantiknya dengan Keringkam

Mengangkat dan memasarkan, sebab di Daik baru saja tahun ini di Bangun Rumah Tekat tudung Manto. Mungkin ini akan jadi salah satu bisnis menjual prodak kebudayaan untuk kebudayaan dan tentu pelakunya juga.

Di Malaysia, perbadanan kemajuan Kraftangan ada menyediakan pusat/rumah pelatihan karyawan. Tinggal saja minat/suka atau mahu tidaknya saja bakal karyawan/pelakunya. Namun, kebergantungan pembelian kepada pengedar/glosir di Singapura sedikit sebanyak menghambat kelancaran perdagangan manto dan keringkam.

#Perempuan Melayu Yang Berkesenian

Tudung manto adalah salah satu prodak budaya benda yang dihasilkan dari tangan-tangan trampil. Kebolehan menekat (red menyulam), adalah salah satu kegiatan kreatif yang menjadi industri rumah tangga. Di Daik, kampung Mentok menjadi pusat kerajinan ini. Dimana, baru-baru ini juga telah di bangun dan masih dalam progres penyelesaian Rumah Tekat Tudung Manto, yang direncanakan sebagai pusat dan galeri Tudung Manto untuk terus mengembangkan kesenian ini. Selain itu, lokasi ini juga diharapkan memberikan pekerjaan bagi warga dan pusat edukasi bagi anak-anak muda di Lingga maupun Kepri mengenal tradisinya.

Kerumitan mengerjakan Tudung Manto yang harus dikerjakan oleh tangan, atau prodak Hand Made, adalah bagian penting menciptakan prodak yang berkualitas. Untuk menyelesaikan Tudung Manto, diperlukan waktu 10 hingga 30 hari perbijinya. Bukanlah pekerjaan yang mudah, namun memiliki harga pasaran yang cukup menjanjikan. Satu buah tudung manto berukuran 1,5 Meter di hargai Rp 1.200.000. Sedangkan di Malaysia, Tudung Manto jauh lebih mahal, mencapai harga Rp 17.000.000 per buah.

pengrajin tudung Manto jamisah

Jamisah salah seorang pengrajin Tudung Manto di kampung Mentok, Daik Lingga. (foto: hasbi)

Fadli, pemerhati sejarah dan budaya di Daik mengatakan, dahulunya kebolehan Tudung Manto di peroleh secara turun-temurun. Rata hampir semuanya, orang perempuan di Daik, yang sebagian besar adalah kalangan Istana boleh membuat Tudung Manto. Perempuan melayu Daik, saat era kesultanan Melayu masih kokoh, dikatakannya di bungkus Tudung Lingkup. Etika dan norma serta syariat agama Islam begitu di pegang erat. Perempuan Melayu, tidak seperti saat ini boleh bersiar ke sana kemari. Mereka diberi kebebasan bersekolah, menuntut ilmu namun memiliki aturan menjaga nama baik dan tinggal dirumah.

“Waktu belajarnya pun dipisahkan dengan laki-laki. Perempuan melayu tidak menari zapin, tari inai dan tampil dalam acara seni. Mereka membuat Tudung manto di rumah,” kata Fadli.

Meski tidak memiliki kesempatan berkesenian layaknya lelaki yang boleh menari zapin, dabos dan tari inai serta silat, namun perempuan-perempuan melayu cukup terkenal di dunia penulisan. Mereka mampu bersyair dan sebagian besar karya-karya perempuan melayu Daik itu di terbitkan oleh rumah cap kerajaan.

“Dulunya, orang perempuan melayu itu bersyair dan membuat tudung manto,” tambah Fadli.

Di era dan zaman yang terus berkembang seperti ini, memang diakui Fadli banyak terjadi perubahan. Kesetaraan gender juga telah masuk ke alam melayu Daik. Perempuan melayu kini bisa berekspresi, bernyanyi, menari dan sebagainya. Namun di sisi lain, kemajuan zaman adalah hal yang perlu tetap dibendungi dimana norma dan etika harus tetap dipertahankan sebagai moral dan identitas.

“Sejauh ini, kita akui masih sedikit sekali perempuan melayu di Kepri yang maju sebagai penyair lagi. Satu sisi adalah kemunduran dari perempuan-perampuan melayu yang berseni,” pungkasnya.

(Muhammad Hasbi).

Komentar

komentar