16 Juni 2017

Tradisi Pelita Likur Orang Daik

By Admin Web In Budaya
image

Malam 22 Ramadhan. Orang Daik cakap 2 Liko (Likur). (foto: hasbi)

Tradisi Pelita Likur Orang Daik

Di Daik, malam ke 10 terakhir bulan puasa atau Ramadhan ditandai dengan tradisi Likur. Sebuah kebiasaan masyarakat yang telah berlangsung sangat lama dan terus lestari sampai kini.

Tradisi Likur adalah tradisi memasang lampu pelita (lampu dengan bahan bakar minyak KBBI) diperkarangan rumah dan menghias jalan-jalan.

Dimualai pada malam ke 21 masyarakat di Daik menandainya dengan satu buah lampu pelita. Warga menyebutnya malam Selikur atau Satu Likur. Hal ini terus berlanjut hingga malam penghujung bulan Ramadhan. Menambah lampu pelita sesuai bilangannya.

Yang paling istimewa ketika masuk malam ke 7. Malam ganjil.

Satu dari malam-malam ganjil yang paling istimewa di bulan suci Ramadhan. Tidak hanya diperkarangan rumah, ribuan lampu-lampu pelita bakal menghiasi bahu jalan. Ditambah karya-karya pintu gerbang dengan motif dan corak islami. Gubah-gubah masjid, bulan-bintang, kaligrafi berpadu-padan. Nampak megah di jalan-jalan.

Tinggal menunggu. Tinggal menghutung hari. Ramadhan bakal pergi lagi.

Komentar

komentar