14 Juni 2017

Pulau Mamut dari Nama Sultan Mahmud III?

By Admin Web In Budaya
MAMUT 1

Panorama dari Desa Mamut. (foto: iwan)

Pulau Mamut dari Nama Sultan Mahmud III?

Asal-usul nama pulau Mamut, memiliki nilai sejarah yang nyaris hilang. Padahal ada kekuatan nilai historis dari pulau kecil tersebut. Dari cerita rakyat yang berkembang pulau ini dulunya menjadi salah satu tempat yang sering di singgahi Sultan Mahmud Riayat Syah (SMSR) atau Sultan Mahmud III (1761-1812). Sampai akhinya oleh masyarakat mengenal pulau ini dengan nama pulau Mamut (Mahmud).

Kini pulau Mamut adalahsebuah desa kecil yang terletak di utara pulau Lingga. Wilayah administrasi kecamatan Senayang. Pulau kecilnya memiliki sungai seperti selat yang dilindungi oleh satu buah pulau kecil yang lain. Masyarakat nya pula rata-rata bermata pencaharian sebagai nelayan tradisional.

Yahya, salah seorang warga desa Mamut menuturkan hampir semua warga desa sudah mendengar jika asal nama pulau yang mereka diami berasal dari naman sang Sultan Melayu yang kini tengah diperjuangkan sebagai Pahlawan Nasional di Bidang Strategi Griliya Laut oleh pemda setempat.

Sambung Yahya, nama pulau Mamut, sudah hidup sejak zaman Sultan Mahmud berlayar dari Bentan (Bintan) ke Lingga.
“Warga di sini hampir semua tahu. Kalau nama Mamut ini, berasal dari nama Sultan Mahmud. Cerita dari orang tua yang sudah turun temurun pernah dulu Sultan menyinggahi pulau yang memiliki aliran sungai ini. Rombongan Sultan yang berlayar juga ikut berteduh disini,” tutur yahya.

sumber air tawar tak kaki mahmud

Iwan, warga Desa Mamut menunjukkan sumber air yang menyerupai jejak telapak kaki. Warga percaya jejak tersebut milik Sultan Mahmud III. (foto: putra)

Sumur Serimuka dan Jodoh

Uniknya, dipulau Mamut juga terdapat sebuah sumber air tawar yang berbentuk seperti telapak kaki manusia. Letaknya persis ditepi pantai. Ajaibnya, sumber air ini tidak pernah kering meski saat musim kemarau. Letaknya yang bersebelahan dengan lautpun tak membuat sumber air menjadi asin.

Masyarakat yakin, jejak kaki sumber air tersebut adalah bekas telapak Sultan Mahmud yang pernah mencari air saat singgah dipulau yang dulunya kosong tak berpenghuni ini.

“Di sini ada sumber air. Kami sebut perigi. Berbentuk seperti telapak kaki. Konon, perigi tersebut adalah jejak kaki Sultan Mahmud. Maka dari itu nama desa ini di sebut desa Mamut,” ungkapnya.
Banyak warga percaya, kata Yahya jika seseorang cuci muka di perigi tersebut, maka ia akan mendapatkan berkah muka yang berseri-seri, terangnya.

Hal senada juga diungkapkan Lazuardi, pemerhati sejarah dan budaya di Lingga. Asal usul nama desa Mamut kata dia memang benar berasal dari nama Sultan Mahmud III.

“Begitu cerita dari orang tua-tua dulu. Karena Sultan Mahmud dulunya selalu singgah di pulau ini setelah pindah dari Bentan ke Lingga. Atau juga saat pelayaran dari Pulau Penyengat,” ujarnya.

Secara akronim bahasa, kata Lazuardi nama Sultan Mahmut, di singkat menjadi Mamut. Dari sanalah asal nama pulau Mamut. Jejak kaki sumber air tawar juga disebut Lazuardi punya historis yang kuat dengan cerita tersebut.
“Sumber air nya memgalir dari celah bebatuan. Bentuknya mirip dengan tapak kaki. Banyak warga setempat menyebut itu adalah jejak tapak kaki Sultan Mahmut,” sambungnya.

Sampai saat ini lanjut Lazuardi, sumber air tetap digunakan masyarakat. Menjadi salah satu sumber kehidupan, menyediakan air tawar diantara pulau-pulau kecil dan lautan untuk mereka yang mendiaminya. Tak jarang, karena peran penting tersebut, banyak pula masyarakat yang menganggap sumber air telapak kaki tersebut sebagai suatu tempat keramat dan sakti.

MAMUT 2

Batu telapak kaki sumber mata air tawar di Desa Mamut. (foto: iwan)

“Dahulu perigi tersebut sering disebut perigi keramat atau sakti. Bahkan kata orang tua-tua dahulu apa bila cuci muka dengan air di perigi tersebut, maka mukanya berseri, dan mudah ketemu jodoh. Itu dahulu begitu,” ujar Lazuardi.

Kini, sumber air tawar terus dijaga oleh masyarakat. Bahkan airnya dialirkan ke sebuah embung. Dari embung tersebut masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, yang disebut-sebut peninggalan Sultan Mahmut Riayat Syah sekitar Abad ke-18.

Penulis Nofriadi Putra

Edt Mhb

Komentar

komentar