15 November 2017

Mandi Safar: Pesan Leluhur Jaga Alam, Silaturahmi dan Hubungan dengan Tuhan

By Admin Web In Budaya
2017_1115_10115000

Tokoh Agama di Daik, H Abdul Gani AR memandikan seorang anak dengan menyiramkan air dari dalam tempayan yang telah diisi wafak. Tradisi Mandi Safar 2015 di Lubuk Papan, Komplek Istana Damnah, Rabu (15/11) . (f. hasbi)

Mandi Safar: Pesan Leluhur Jaga Alam, Silaturahmi dan Hubungan dengan Tuhan

Banyak dari kita yang tidak mengetahui makna dari sebalik peristiwa budaya yang diwariskan turun-temurun. Seperti halnya tradisi Mandi Safar yang setiap tahun dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan ke 2 tahun Hijriah tersebut.

Di Daik Lingga, Bunda Tanah Melayu, peristiwa budaya ini menjadi salah satu peristiwa penting yang selalu dirayakan. Di dalamnya, ada makna dan tunjuk ajar yang diajarkan orang Melayu kepada generasi muda.

Mengutip Tenas Effendy dalam bukunya yang berjudul Tunjuk Ajar Melayu, “Hakikatnya, berbagai upacara adat dan tradisi itu adalah sebagai penjabaran dan tunjuk ajar, atau setidak-tidaknya, mengandung nilai-nilai luhur tunjuk ajarnya.”

Bulan Safar bagi orang Melayu dikenal sebagai bulan naas, dimana pada Rabu terakhir ada 12.000 lebih bala’ yang diturunkan oleh Allah SWT.  Untuk menjauhkan bala’ tersebut, dipanjatkanlah doa kepada Allah SWT. Kemudian dilanjutkan dengan mandi air tolak bala’ dari Sangku ataupun Wafak yang dituliskan diatas sebuah daun atau kertas sebagai medianya. Ada yang melakukan dirumah masing-masing, ada juga yang melakukan Safar (perjalanan jauh), mengajak sanak keluarga berjalan ke sungai-sungai untuk mandi dan membersihkan diri.

Maka kemudian, berbondong-bondonglah orang-orang Melayu di Daik meninggalkan sejenak rutinitas pekerjaan dan berkumpul bersama keluarga menikmati alam, bersilaturahmi dan berikhtiar memohon keselamatan dari Sang Pencipta.

Pencinta Sejarah dan Budaya Melayu yang juga Koordinator Bidang Penelitian Adat dan Budaya Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Lingga, M Fadlillah mengatakan pada saat sekarang ini, tradisi dan budaya perlulah digali lebih jauh agar nilai dari tradisi tersebut tidak sekedar nampak hanya sebatas serimonial.

Menurutnya, Mandi Safar memiliki hubung-kait antara manusia dengan alam, sesama manusia dan Ketuhanan.

“Bala’ itu juga bisa timbul akibat ulah ceroboh tangan manusia yang tidak menjaga alam. Mandi Safar selalu dilaksanakan di aliran Sungai. Jika nanti sungai itu rusak, apa mungkin budaya ini bisa terus berlangsung?. Mandi Safar mengingatkan kita pentingnya alam, semoga bala’ itu tidak datang karena kecerobohoan kita sendiri yang membabat hutan, membuka tambang dan sebagainya,” papar Fadli.

Alam harus terus terjaga keseimbangannya, hal inilah yang menjadi bagian tunjuk ajar orang Melayu tersebut. Begitu juga silaturahmi antar sesama manusia yang perlu dipelihara dengan baik.

Sedangkan hubungan dengan Tuhan, doa dan ikhtiar menjadi salah satu cara agar mendapat keselamatan dunia akhirat.

Komentar

komentar