29 November 2017

Kampung Cina Daik 28/11/17

By Admin Web In Budaya

2017_1128_03054500

Kampung Cina Daik 28/11/17

Puluhan rumah dan toko di jantung ekonomi Daik, Pasar Kampung Cina luluh lantah dilahap si jago merah. Pemukiman yang juga menjadi pasar tersebut tak bersisa selain tongkat kayu yang terbakar hangus dan sisa puing rumah beton rusak parah.

Tak banyak barang-barang yang sempat diselamatakan. Pasar yang menyediakan berbagai macam kebutuhan masyarakat mulai dari kebutuhan pokok, pakaian, kendaraan bermotor, kedai kopi, meja biliard, barang elekronik, hotel, penginapan hingga bahan bangunan tak bersisa.

2017_1128_03235800

Foto diambil Pukul 03.23 WIB kobaran api melahap bangunan disebelah selatan Pasar Kampung Cina Daik. (f/hasbi)

Peristiwa kebakaran hebat itu terjadi Selasa (28/11), sekitar pukul 01.00 WIB terjadi begitu cepat. Dalam waktu lebih kurang 5 jam, api melahap bangunan rumah dan toko dari kayu sampai rata. Penghuni rumah berhamburan keluar, lari membawa barang berharga. Warga yang datang juga membantu menyelamatkan barang-barang dari balik pintu-pintu toko.

Petugas dan warga berupaya memadamkan api. Berharap masih ada yang bisa diselamatkan. Sementara mobil pemadam yang hanya sebiji itu tak mampu berbuat lebih. Api terlalu besar dan merayap lebih cepat.

Empat Kali Terbakar |  Sebelumnya Masjid Keling

Peristiwa terbakarnya pasar Kampung Cina Daik bukanlah hal baru pertama kalinya terjadi. Informasi dari masyarakat setempat telah terjadi beberapa kali kebakaran besar yang menghanguskan Kampung Cina, Jalan Datuk Laksemana Daik Lingga.

Pemukiman padat yang bersebelahan dengan Sungai Daik tersebut telah dibuka pertama kali 230 tahun silam. Pasar tersebut disebut-sebut telah ada sejak zaman Sultan Mahmud III memindahkan pusat kesultanannya ke Daik Lingga (1787). Pasar menjadi pusat ekonomi hingga saat ini. Di tempat itu berbagai kaum dan suku bangsa hidup berdampingan. Warga Thionghua, Minang, Bugis, Melayu, Jawa, Keling bersama-sama memperkuat ekonomi di Bunda Tanah Melayu.

Pada tahun 1927, dimasa kolonial menurut sejumlah informasi musibah kebakaran juga pernah terjadi. Rumah-rumah yang kebanyakan dihuni warga Thionghua ikut dilalap api. Sementara pada tahun 1952, dikatakan pemerhati sejarah dan budaya di Lingga, Lazuardy dari arsip foto yang ia simpan juga pernah terjadi.

24059270_509789622717002_9174475286924042583_n

Arsip foto peristiwa kebakaran di Kampung Cina Tahun 1952 milik Lazuardy.

“Pasar Kampung Cina ini bersejarah, sudah ada sejak Sultan Mahmud III. Kebakaran kedua terjadi 13 Agustus 1952 ada fotonya. Setelah itu tahun 70 an dan sekarang,” kata Lazuardy.

Pasar Kampung Cina lanjut Lazuardy memang menjadi pusat perekonomian masyarakat Daik dari dulu hingga saat ini. Terlebih kini setelah bangkit kembali menjadi Kabupaten, pasar tua tersebut tak pernah sepi.

Sejumlah peristiwa kebakaran di Kampung Cina yang masih menjadi buah bibir masyarakat Daik ialah peristiwa terbakarnya Masjid Keling. Lokasinya di atas tanah wakaf yang menjadi Kedai Kopi Pak Tani saat ini. Masjid ini di bangun oleh orang-orang Keling di Daik dan berada di tengah-tengah pasar itu.

Uniknya dalam peristiwa kebakaran tersebut, seluruh bagian masjid dan pertokoan disana hangus terbakar namun ada sebuah kitab tetap utuh dan tidak terbakar. Orang-orang tua di Daik masih ingat betul cerita tersebut.

Ditempat lain, diungkapkan Fadli, salah seorang pemuda di Daik menurut sejumlah catatan yang disimpannya, kebakaran hebat juga terjadi tahun 1974.

“Ini kebakaran terdahsyat yang menimpa Pasar Kampung Cina Daik setelah tahun 1974. Sejak itu tidak pernah ada kebakaran sampai hari ini” kata Dia, Selasa (28/11).

Seiring waktu, pasar mulai dibangun kembali. Butuh waktu panjang untuk memperbaiki bangunan serta ekonomi para pedagang. Namun sayangnya, pasar tradisional tersebut tidak pernah ditata dengan baik. Rumah-rumah dibangun berdempet dan semakin padat. Ditengah pasar juga tidak tersedia hidran yang menyulitkan proses memadamkan api saat kebakaran berlangsung.

2017_1128_07102200

Foto diambil pukul 07.08 WIB dari seberang Sungai Daik. Para petugas masih melakukan pemadaman menggunakan mesin pompa dengan menggunakan pompong, Selasa (28/11). (f/hasbi)

Membangun Kampung Cina Masa Depan

Bak kata pepatah, “Geruh Tak Berbunyi Malang Tak Berbau,” tulis Fadli dalam akun media sosialnya soal kebakaran di Kampung Cina Daik.

Sebanyak 59 bangunan Toko dan Rumah lumat dilalap api. Kerugiannya tak tanggung-tanggung lebih dari Rp 50 Miliar.

Sebagai penikmat sejarah, Fadli mengatakan emperan jalan kayu pelantar dan warung-warung kopi yang berderer-deret, kedai-kedai lama memiliki sejarah tersendiri tentang pemukiman warga Thionghua di Daik.

“Penikmat sejarah selalu mengenang deretan kedai-kedai di kiri dan kanan jalan. Kami sering berjalan di emperan perlantar kayu di depan kedai Pak Ngah Aseng menuju Pasar Ikan lama melewati lorong disamping rumah Kak Ageng itu,” kenang Fadli.

2017_1128_06531000

Warga melihat kondisi pasar yang terbakar. (f/hasbi)

Musibah yang menimpa warga tersebut cukup membuat sedih dan haru. Dalam waktu  kurang 5 jam, pasar tersebut rata tak bersisa. Perabotan, alat toko dan sebagainya hangus ludes.

“Semua tinggal kenangannya. Kami juga turut berduka cita atas musibah ini. Semoga di atas puing-puing reruntuhan kembali bangkit menjadi lebih maju dan jaya lagi,” ungkapnya.

Harapan Fadli lebih kurang sama dengan seluruh masyarakat yang ada Daik. Yang rela datang membantu menolong warga tanpa pamrih. Latar belakang dan suku tak menjadi persoalan. Musibah menjadi kesedihan bersama dan semangat harus tetap ada untuk membangun kembali.

2017_1128_06594700

Asap hitam masih mengepul dari bekas kayu dan peralatan rumah tangga warga yang terbakar. (f/hasbi)

Untuk membangun lagi Pasar Kampung Cina perlu belajar banyak dari pengalaman. Tiga kali kebakaran hebat membuat lumpuh ekonomi. Sampai-sampai pemerintah setempat menyebarkan surat himbauan agar bahan kebutuhan pokok tidak dijual melebihi HET yang ditetapkan oleh pemerintah.

Sungai Daik yang mengalir lurus dibelakang pemukian dan pasar tersebut perlu juga menjadi perhatian dalam membangun kembali pasar yang maju. Sejarah Sungai Daik, perlu dimunculkan dalam penataan kedepan. Paling tidak, bangunan nanti tidak menutup bibir sungai lagi. Lebih baik, ada juga ruas untuk pejalan kaki dan kemudahan akses pasar.

Komentar

komentar