2 Mei 2017

Kampil | Jejak Bangsa “Iranun” di Lingga

By Admin Web In Budaya
ulu kampil 2

Ulu Kampil yang berbentuk kepala Buaya sumbangan Radiono untuk Museum Linggam Cahaya. (foto: hudhri)

Kampil | Jejak Bangsa Iranun di Lingga

Menelusuri benda bersejarah di Daik Lingga, tak akan pernah ada habisnya. Beragam jenis peninggalan tersimpan, seperti senjata yang menjadi salah satu alat pertahanan diri bangsa melayu, saat kesultanan Lingga masih kokoh berdiri.

Salah satu tempat yang menjadi rujukan, terdapat di Museum Linggam Cahaya yang digagas pemerintah setempat sejak beberapa tahun silam. Terletak di komplek Istana Damnah, Daik Lingga. Terdapat berbagai jenis senjata sepeti Kampil, atau disebut juga Kampilan yang berarti Kelewang, Pedang (lihat KBBI).

Senjata Kampil ini, diyakini bukan asli berasal dari bangsa melayu kepulauan Riau yang lazim seperti Keris. Namun, Kampil adalah salah satu senjata milik bangsa Iranun. Sebuah bangsa dari Mindanau wilayah Filipina Selatan mencakup Tempasuk sebelah Sabah Borneo (Kalimantan Timur). Hubungan sejarah yang belum terbuka jelas hingga kini, menjadi pertanyaan bagaimana bisa senjata Kampil tersebut sampai ke Lingga?

Kampil yang terdapat di Museum Linggam Cahaya merupakan sumbangan saudara Radiono. Warga desa Kelumu, kecamatan Lingga. Menurut Radiono yang akrab disapa Tok Ra, Kampil yang ia miliki tersebut adalah salah satu warisan keluarga. Orangtua nya adalah keturunan kesekian yang tinggal di Bangka Belitung. Sedangkan Atok nya menurut cerita Tok Ra adalah dukun di Kesultanan Lingga. Senjata turun-temurun yang diwarisi dan kini ia serahkan ke Museum untuk dirawat dan dipajang agar generasi muda dapat melihat senjata pertahanan diri tersebut yang misteri.

Senjata Kampil adalah senjata perang bangsa Iranun. Ciri-ciri Kampil agak ringan dengan panjang berukuran 1 hingga 1,5 meter. Sisi tajam pada bilah dan bentuknya semakin melebar pada bagian ujung pedang. Mirip seperti Mandaw orang Dayak. Dibagian ujung terdapat motif. Sedangkan pada gagang atau hulu pedang berbentuk seperti kepala buaya.

Sementara besi pedang dari Kampil yang terus menua kini hanya menjadi koleksi yang tersimpan rapi. Sayangnya, senjata utama bagi bangsa Iranun ini yang digunakan dalam pelayaran ke Nusantara abad ke 17 hingga 18 ini sebagai bukti dari perlawanan kolonialisme belum banyak diketahui kalangan luas.

Kampilan 1

Bentuk Kampil secara utuh. (foto: hudhri)

Ada peran besar bangsa Iranun, dalam sejarah kerajaan Melayu disemenanjung. Berhasil mengusir Belanda keluar dari Riau atas permintaan Raja Bongsu dan Sultan Mahmud III. Namun pengaruh besar Belanda saat era kolonial membuat bangsa Iranun tergeser. Kata Iranun kemudian bergeser pula menjadi ‘Lanun’ atau Bajak Laut yang konotasinya menjadi lebih buruk dalam sejarah hingga kini.

Dalam Thfat Al-Nafis, Sejarah Riau-Lingga dan daerah taklukannya 1699-1864, karya Raja Ali Haji, “Maka dijalankannyalah pekerjaannya yaitu menyuruhlah ia satu utusan ke Tempasuk adalah yang pergi itu namanya Encik Talib serta beberapa orang lagi sertanya membawa surat kepada Raja Tempasuk minta pertolongan kepada Raja Tempasuk itu pada mengamuk Holanda di Riau. Dan pada satu kaul memang keturunan daripada raja Johor di dalam Tempasuk itu bernama Raja Ismail. Maka tatkala tibalah Encik Talib itu dimaklumkannya seperti maksud Raja Indra Bongsu itu kepada Raja Tempasuk. Maka diterimalah oleh Raja Tempasuk kehendak Raja Bongsu seta Baginda Sultan Mahmud itu. Maka lalulah ia menyuruh anak-anaknya tiga orang, dan empat dengan Raja Ismail itu, dan adalah Raja Ismail itu menjadi panglima besarnya. Adalah nama yang disuruhnya itu pertama Raja Tebuk namanya, kedua Raja Alam namanya…” (Thufat Al- Nafiz, 203).

Belanda-pun dapat diusir keluar dari Riau atas bantuan bangsa Iranun yang tangguh. Setelah selesai melawan Belanda di Riau, raja Lanun tersebut balik ke Tempasuk, namun Raja Muda Umak tetap tinggal di dalam negri Riau. Kemudian datang pula Tok Lukus dan Tok Akus memperhambakan dirinya untuk bersumpah setia kepada Sultan Mahmud III. Karena melihat Riau yang pasti mendapat serangan balik dari Belanda, Sultan Mahmud pun memindahkan pusat ibukota berpindah ke Lingga bersama pengikutnya termasuk orang Iranun dengan 200 buah perahu.

Menurut salah seorang pemerhati sejarah bangsa Iranun, Abdul Naddin dari Sabah mengatakan, Raja Muda Umak, Tok Lukas dan Tok Akus yang ikut bersama Sultan Mahmud ke Lingga diikuti pula oleh 900 pasukan Iranun dengan penjajab (red kapal). Kemudian, mereka menikah dengan penduduk Lingga hingga keturunannya lebih dikenal dengan sebutan Melayu Timur.

Menurut hemat Naddin, dari sinilah mula banyaknya bangsa Iranun tersebar di Lingga hingga berketurunan. Adanya temuan Kampil di Lingga, menurut Naddin, kuat dugaan senjata utama bangsa tersebut yang dibawa dan diwariskan secara turun temurun di Lingga.

“Kami yakin, kampil pasti ada hubungannya dengan bangsa Iranun. Kami sudah lama menjejaki bangsa Iranun. Pernah tahun 2010 kami singgah ke Tanjungpinang dan Pekanbaru. Sempat juga diinterview oleh wartawan Batam Pos, mencari jejak Iranun,” kata Naddin yang dihubingi via Whatsapp beberapa waktu lalu.

Menurut Naddin, bangsa Iranun adalah bangsa melayu yang setiakawan. Ikatan persawdaraannlah yang membawa orang-orang Iranun ikut dalam membantu Sultan Mahmud III mengusir Belanda di Riau.

“Ikatan persaudaraan antara orang melayu dulu kuat. Mereka tidak tega melihat saudara mereka disakiti atau diserang. Mereka pasti datang menolong,” sambung Naddin.

Penjejakan orang Iranun, kata Naddin terus diupayakan untuk menemukan jejak sejarah dan keturunan. Kabar gembira adanya Kampil di Daik Lingga, juga membuat ia akan datang ke Bunda Tanah Melayu. Baru-baru ini kata Naddin, bersama rekannya keturunan bangsa Iranun, telah membuat sebuah forum dan pertemuan di Bangka Belitung. Merajut lagi tali persaudaraan yang terkucar kacir sejak Belanda mengecap orang Iranun atau Lananun adalah penjajah. Diakuinya, sejak cap negatif tersebut, banyak bangsa atau orang Iranun menghilang.

 

Naskah Hasbi Muhammad

Foto Hudri

Komentar

komentar