19 November 2017

JK dan Tamadun Lingga, Ke mana Hilirnya?

By Admin Web In Alam, Budaya, Manusia
FB_IMG_1511085164227

Wapres JK didampingi Gubernur Kepri Nurdin Basirun dan Bupati Lingga Alias Wello disambut dengan silat. (f. istimewa)

JK dan Tamadun Lingga, Ke mana Hilirnya?

Kunjungan Wakil Presiden Indonesia, H Jusuf Kalla (JK) ke Lingga Bunda Tanah Melayu yang membuka langsung gawai akbar kegiatan yang diberi nama Perhelatan Tamadun Melayu Antar Bangsa tentu menjadi sejarah yang tidak terlupakan. Bagaimana tidak, sejak berdirinya NKRI ini selama 72 tahun, baru kali pertama inilah pembesar bangsa mengunjungi tanah yang telah melahirkan bahasa Indonesia itu, Minggu (19/11) siang.

Dua tiga hari terakhir, keheningan di Daik Lingga pusat kegiatan digelar hilang lesap. Bunyi jangkrik berganti lalu lalang kendaraan pengawal berseragam ketat. Senjata laras pendek dan panjang ditentengnya juga.

Mobil baja dan pengamanan sesekali meraung lewat corong sirine melewati jalan-jalan kampung yang hening. Sawan juga budak-budak kecil dibuatnya.

Konon, pengamanan ekstra menjadi standar. Sehari sebelum datangya JK, lokasi disterilkan. Ruas jalan ditutup. Di pintu masuk dipasang sensor logam dengan sejumlah penjaga. Tak sembarang orang boleh masuk. Hanya mereka yang memiliki surat undangan dan id card khusus.

Belum lagi pengaman alam. Pawang hujan dipesan jauh hari agar hujan tak turun selama acara pembukaan digelar. Sampai-sampai bahang panas menguap dari dalam baju kurung dan kebaya tamu undangan. Bedak luntur dileleh peluh. Gunung Daik yang menjadi kebanggaan itupun berkabut dibuatnya.

Orang-orang kampung datang berbondong-bondong. Dari pagi, jalan Istana Robat tepatnya dihalaman kantor bupati Lingga penuh sesak. Berjejer pula karangan bunga beratus-ratus meter.

Sekitar pukul 13.00 WIB, menderu bunyi heli diatas kepala. Tepat di lapangan Sultan Mahmud kemudian mendarat. Dari jauh nampak pria bugis bertubuh kecil itupun akhirnya sampai juga. Kompang gendang dan gong pun dipalu mengarak JK untuk segera diberi gelar Sri Perdana Mahkota Negara oleh Lembaga Adat Melayu (LAM) sebelum membuka perhelatan agung Tamadun kelak.

Rasa bangga belum juga selesai. JK telah datang ke Lingga. Nasib Budaya dibalik perhelatan akbar juga masih menjadi tanda tanya.

Bagaimana dengan kebudayaan Melayu yang dibangun Sultan Mahmud III. Budi bahasa orang-orang di Daik yang sampai hari ini menjadi benteng lidah sejarah Melayu itu jangan pula dipandang sekedar saja.

Apakah dengan datangnya JK, kebijakan dibindang kebudayaan bakal berubah dan Lingga mendapat perioritasnya? Baik sebagai sentral pusat kebudayaan Melayu dan Bunda Tanah Melayu untuk mendapat suntikan anggaran yang lebih besar daripada APBD Lingga yang melalu defisit itu.

Atau juga muncul kesadaran para wakil rakyat di daerah dan pusat sana untuk lebih serius memperhatikan kebudayaan dari pada politiknya saja? Lalu bagaimana dengan pelaku budaya dan masyarakat yang menjadi pemilik Tamadun sesungguhnya?

Wallahualam……

Komentar

komentar