29 April 2017

Istana Kota Batu & Simbol Perlawanan

By Admin Web In Budaya
rida kota batu 5

Puing-puing Istana Kota Batu yang dibangun Sultan Mahmud IV. (foto: hasbi)

Istana Kota Batu Simbol Perlawanan Terhadap Penjajah

Keberadaan Istana Kota Batu seolah lenyap dalam sejarah. Padahal istana ini menjadi salah satu bukti dan simbol perlawanan Sultan Mahmud Muzzafarsyah atau Mahmud IV (1841-1857) Lingga terhadap penjajah Belanda.

Hal tersebut dipaparkan Budayawan besar Kepri, Rida K Liamsi saat berkunjung melihat puing-puing istana yang bergaya eropa ini. Bekas istana yang pernah dibangun sultan 165 tahun lalu.

Meski hujan sejak pagi semangat, pria 74 tahun tersebut tak surut. “Ini petualangan sejarah,” kata Rida di Daik.

Ditemani saudara Fadli yang lebih senang disebut sebagai penikmat sejarah, Rida susuri semak rimbun. Hujan semakin lebat. Jalan tanah tergenang. Tak terawat. Lebih tepatnya terbengkalai meski kini ditetapkan sebagai benda cagar budaya (BCB) oleh pemkab Lingga.

rida kota batu 1

Budayawan Rida K Liamsi bersama Fadli di situs BCB Istana Kota Batu. (foto: hasbi)

Lokasi BCB ini berada lebih kurang 100 meter dari kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan Gedung Daerah. Pusat pemerintahan kabupaten Lingga kini. Tidak terlalu jauh dengan lokasi Istana Damnah yang dibangun setelahnya oleh Sultan Sulaiman.

Namun kondisi belum tertata. Itupun tak jadi hal. Para pecinta dan petualang sejarah ini sudah terbiasa. Melongok ke pedalaman, menemukan sisa jejak sejarah menuliskan lagi literasi. Memugar sejarah dengan kata-kata.

Hujan terus mengguyur. Di bawah payung kecil yang jadi peneduh. Menemukan tembok bata merah sisa-sisa. Yang katanya dibuat oleh orang-orang melayu. Para tukang istana orang cina. Dari sana tampak gagah Gunung Daik dan Sepincan yang menjulang sebelah barat.

“Istana ini adalah simbol perlawanan Sultan Mahmud IV. Dengan istana ini ia (Mahmud IV) ingin menunjukkan inilah Sultan Melayu yang bisa juga hidup modren dan maju seperti orang-orang Eropa,” ucap Rida di Daik, Selasa (18/4) kemarin.

Dalam sejumlah literatur sejarah, disebutkan Sultan Mahmud IV terkenal pembangkang terhadap penjajah Belanda. Hingga Tahun 1857 sultan dimakzulkan. Cicit dari Sultan Mahmud Riayat Syah atau Mahmud III ini kemudian meninggalkan Daik Lingga dan wafat di Pahang. Dikenal sebagai Marhum Pahang.

rida kota batu 3

Satu-satunya arsip foto sultan Mahmud IV yang tersimpan di Museum Linggam Cahaya. (koleksi dokumentasi: hasbi)

Kisah pembangunan Istana Kota Batu sang Sultan juga tercatat dalam Syair Sultan Mahmud.

Berisi kumpulan ribuan bait syair, mengisahkan perjalanan semasa kepemimpinanya selama 16 tahun sebagai Sultan Lingga.

Berikut beberapa isi syair Sultan Mahmud IV yang telah dialihaksarakan dari tulisan arab melayu oleh Rsip nasional Republik Indonesia (Swardi MS, Ridwan M: 1990)

 

Gedung dibangun di tengah padang

Terlalu indah rupanya dipandang

Besarnya patut tingginya sedang

Tiadalah cacat mata memandang

Gemujuknya Kumala berapit intan

Disinar Syamsu berkilatan

Dari atasnya nampak ketengah lautan

Dari bawah sudah nampak kelihatan

Istanaya indah tiada terperi

Patutlah istana Raja bestari

Disinar Syamsu matahari

Gilang gemilang berseri

Istanya indah Nampak terhela

Tingkap berakit-rakit berjendela

Kemujuknya ditaruh suatu kumala

Disinar Syamsu bercahaya

Sudahlah istana cara wilanda

Dikerjakan oleh menteri yang muda

Selengkapnya perhiasan semuanya ada

Menghabiskan saka di dalam dada

Dibentangkan hamparan di Menggala

Meja dan kursi diaturkan pula

Berdinding cermin segenap jendela

Satup seratus digantung pula

Dibubuh meja dari pada batu

Harganya seribu akan satu

Terlalu indah perbuatan itu

Di atasnya ada patung satu

Istana yang dibangun Sultan Mahmud IV ini juga menjadi tempat berlangsungnya pernikahan antara anaknya Tengku Embung Fatimah dengan Yang Dipertuan Muda (YDM) ke X, Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi.

Dalam bait syair yang lain juga dijelaskan acara pernikahan di istana yang begitu meriah. Pasca dimakzulkan hingga kemerdekaan RI dan kini, cerita Kota Batu dan Sultan Mahmud IV seakan hilang terkubur puing-puing istana yang telah rubuh. Rida tak mau hal itu terjadi. Ia ingin semangat melayu yang dibawa Mahmud IV hidup dalam pola pikir bangsa melayu hari ini. Kepahlawanan dan sikap pembangkanya terhadap bangsa lain yang terlalu ikut campur dalam kesultanan Lingga.

“Aku dalam perjalanan meluruskan sejarah dan menempatkan Sultan Mahmud IV ditempatnya yang semestinya dalam catatan sejarah kerajaan Lingga-Riau,” sambung Dato Seri Lela Budaya yang tengah menyelesaikan buku semi sejarah Mahmud Sang Pembangkang.

 

rida kota batu 4

Sisa pecah belah genteng, batu bata dan sejumlah pagar Istana Kota Batu. (foto: hasbi)

 

 

 

 

 

 

 

Kota Batu atau Kota Hantu?

Saat kunjungannya ke lokasi Istana Kota Batu, berdampingan dengan pusat pemerintahan kabupaten Lingga tersebut Rida juga menyayangkan kondisi yang kurang terawat. BCB ini minim sarana prasaranan penunjang seperti jalan menuju lokasi situs.

“Seharusnya situs ini segera diselamatkan. Agar jejak dan catatan sejarahnya tidak hilang. Hal ini juga aku telah sampaikan kepada pemda dan dinas kebudayaan,” lanjutnya.

rida kota batu 2

Akses jalan menuju Istana Kota Batu yang berdampingan dengan komplek pemerintahan kabupaten Lingga masih sangat minim sarana penunjang. (foto: hasbi)

Sebagai sentral Bunda Tanah Melayu, komitmen menjaga warisan budaya jelas Rida adalah kunci mewujudkan Bunda Tanah Melayu yang sesungguhnya. Ia berharap hal ini menjadi perhatian serius pemerintah untuk menjaga khazanah pusat kesultanan 200 tahun lalu di Daik Lingga.

Sejarah yang terkubur di Lingga adalah modal besar mewujudkan Bunda Tanah Melayu. Selogan 18 Tahun silam yang disematkan penulis melayu serumpun Asean di Daik. Menjadi negeri bersejarah yang bertamadun. Pusat rujukan dunia melayu dengan peninggalannya. Perkampungan nayaman dengan alam yang perawan. Sayang untuk dibiarkan. Sayang dilupakan. Menjadi tugas anak cucu orang melayu untuk dijaga agar Kota Batu tidak berubah menjadi Kota Hantu.

 

Naskah & Foto; Hasbi Muhammad

 

 

Komentar

komentar