22 April 2017

Hari Bumi | Sinergi Manusia & Alam

By Admin Web In Alam
image

Menanam membuat bumi tetap hidup. (foto: hasbi)

Hari Bumi | SinergiManusia & Alam

Peringatan Hari Bumi yang ditetapkan pada 22 April harus menjadi sebuah sikap untuk bersenergi. Bukan lagi menjadi istilah. Tapi sebuah kesadaran untuk saling mengisi dan melengkapi perbedaan untuk mencapai hasil lebih besar daripada jumlah bagian per bagian.

Manusia jaman inibyang mengaku maju dan modren seharusnya telah membuat sebuah keputusan bersama yang beroreintasi pada hal-hal positif untuk kelangsungan kehidupan manusia di Bumi.

Eksploitasi alam yang berlebihan, demi tekhnologi dan memuaskan nafsu manusia juga ilmu pengetahuan yang tanpa batas, harusnya bisa terkendali. Keinginan manusia tidak terbatas. Tapi alat untuk mencapainya yang terbatas.

Akibat kerakusan dan keseweng-wenangan ulah tangan kita sendiri (manusia red) membuat rusak hubungan antara manusia alam. Entah kepentingan pribadi maupun kelompok, bumi yang semakin menua hancur. Perlahan. Tapi pasti.

Bencana alam semakin sering terjadi. Tidak terkecuali, dibelahan dunia manapun. Pemanasan global, pergeseran musim, banjir bandang, tanah longsor, kebakaran hutan, kekeringan, pencemaran air yang menyebabkan krisis air bersih, pencemaran tanah, pencemaran udara, serta bencana lain yang merupakan efek domino dari kecerobohan manusia dalam mengelola lingkungannya.

Ekploitasi sumber daya alam secara berlebihan, dengan membuka aneka pertambangan emas, intan, batu bara, bauksit, granit, timah lepas pantai, minyak, mangan, uranium, pembalakan hutan dan sebagainya telah banyak menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Keuntungan yang sesaat. Kegiatan yang sia-sia. Ketamakan dan rusaknya moral suatu peradaban.

Kebodohan yang dibenarkan undang-undang. Hukum. Celah bagi kantong-kantong parasit. Menambang pulau-pulau kecil yang dilindungi aturan manusia serakah. Merusak ekositim.

Peringatan Hari Bumi, seyogyanya menjadi momentum dan titik balik manusia hidup dalam kodratnya. Serperti bait-bait lagu ‘Bebal’ karya Sisir Tanah yang berani lewat petikan gitar dan vocal Bagus Dwi Danto. Menjadi sebuah peringatan yang halus mengoyak jiwa-jiwa yang sadar.

“Bebal”

Jika bumi adalah ibu.
Kita manusia memperkosa ibunya.
Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Setiap detik.

Jika laut adalah ibu.
Kita manusia memperkosa ibunya.
Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Setiap detik.

Jika hutan adalah ibu.
Kita manusia memperkosa ibunya.
Setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Setiap detik.

Ada, tak ada manusia mestinya
Pohon-pohon itu tetap tumbuh.
Ada, tak ada manusia mestinya
Terumbu karang itu tetap utuh.

Ada, tak ada manusia mestinya
Pohon-pohon itu tetap tumbuh.
Ada, tak ada manusia mestinya
Terumbu karang itu tetap utuh.

-Sisir Tanah-

image

Earth Day 2017. (foto: net)

#Manusia Hidup Mem’Bumi’

Secara harfiah, Hari Bumi adalah hari pengamatan tentang bumi yang dicanangkan setiap tahun pada tanggal 22 April dan diperingati secara internasional. Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia ini yaitu bumi.

Pertama kali dicanangkan oleh Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson pada tahun 1970. Seorang pengajar lingkungan hidup. Tanggal ini bertepatan pada musim semi di Northern Hemisphere (belahan Bumi utara) dan musim gugur di belahan Bumi selatan.

PBB sendiri merayakan hari Bumi pada 20 Maret sebuah tradisi yang dicanangkan aktivis perdamaian John McConnell pada tahun 1969, adalah hari di mana matahari tepat di atas khatulistiwa yang sering disebut Ekuinoks Maret.

Kini hari bumi diperingati di lebih dari 175 negara dan dikoordinasi secara global oleh Jaringan Hari Bumi (sumber wikipedia).

Hari Bumi atau Earth Day, mungkin masih belum terlalu populer di Indonesia. Belum masuk hingga wilayah-wilayah pelosok dan pesisir. Yang jauh dari pusat Kota, yang selalu dijadikan objek kegiatan-kegiatan pengursakan oleh pemodal-pemodal kota. Pemilik uang.

Namun bagaimanapun itu, kesdaran alamiah dan sinergitas harus dibangun dalam prinsip dan sikap manusia-manusia pradaban hari ini. Modrenitas menurut seorang kawan adalah kegagalan menjaga lingkungan. Demi modren berbagai cara ditempuh. Menentang alam bukan melentur dan membumi. Ilmu pengetahuan yang semakin maju, namun kehilangan malu menjadi pribadi barbar dan sewenang-sewenang ‘memperkosa’ alam. Apakah ini modren?

Hari ini menjadi peringatan bersama. Mari kita bergandengtangan memperlakukan alam sewajarnya. Sepantasnya. Menjadi manusia.
Selamat Hari Bumi, untuk Bumi yang kita tinggali. Untuk Bumi yang menyediakan segalanya hingga tempat kita mati nanti ataupun hari ini.

Naskah Hasbi Muhammad

Komentar

komentar