30 September 2017

Gurihnya Bubur Asyura

By Admin Web In Budaya
2017_0930_16350200

Ibu-ibu majlis Ta’lim Surau Al Jihad membagikan bubur asyura. (f. hasbi)

“Gurihnya Bubur Asyura”
Peringatan 10 Muharam

Menyiapakan Bubur Asyura bagi warga Kampung Tanda Hilir, Kelurahan Daik sudah menjadi tradisi turun-temurun. Peringatan hari ke 10 di bulan pertama Hijriah, bulan Muharam yang bersamaan  dengan Sabtu (30/9) tersebut terasa begitu gurih dengan jamuan bubur lemak dan pedas khas orang Daik ini.

Usai sholat Ashar, warga berkumpul di surau Al Jihad membaca doa dan menyantap bersama. Bubur Asyura yang berisi berbagai jenis biji-bijian, kacang-kacangan, nasi, daging ayam dan udang itu hanya ditemukan saat hari Asyura saja.

Secara harfiah, Hari Asyura (عاشوراء ) adalah hari ke-10 pada bulan Muharram dalam kalender Islam. Sedangkan asyura sendiri berarti kesepuluh.

Tokoh Masyarakat Daik, H Nadar M Ali mengatakan, Bulan Muharam disepakati umat Islam sebagai penanda awal tahun sejak zaman Khalifah Syaidina Umar bin Khatab. Pada bulan Muharam tersebut umat Islam diharamkan oleh Allah untuk berperang dan berbuat dosa. Sebaliknya dianjurkan untuk berbuat kebaikan.

“Pada 10 Muharam, orang muslim disunnahkan berpuasa. Untuk mengenang peristiwa-peristiwa besar seperti Nabi Adam AS toubatnya diterima oleh Allah SWT. Begitu juga Nabi Nuh AS yang diperintahkan untuk membangun Bahtera dan terselamat dari banjir. Nabi Idris AS diangkat drajatnya. Nabi Ibrahim AS selamat dari api. Umat Nabi Muhammad SAW juga diterima toubatnya pada hari ke 10 Muharam ini. ” jelas H Nadar.

Sedangkan untuk para jemaah yang menjalankan sunnah berpuasa, pengurus surau telah menyiapkan bubur untuk dibawa pulang.

“Pengurus surau juga mengantarkan bubur kerumah-rumah warga. Biar semua dapat merase,” lanjut H Nadar.

Bubur yang terdiri dari biji-bijian dan kacang-kacangan ini lanjut H Nadar mengenang peristiwa banjir besar yang terjadi pada masa Nabi Nuh As. Setelah selesai musibah banjir dan ujian itu dengan kemurahan dari Allah SWT, biji-bijian itu tumbuh subur. Kemudian diambillah biji-bijian sebagai sumber makanan.

Peringatan Asyra ini juga lanjut H Nadar menjadi salah satu cara orang melayu memepererat silaturahmi antar warga. Bekerjasama serta bergotong royong. Mulai dari menyiapkan bahan-bahan, memasak hingga menggelar doa serta memulaiakan anak yatim.

2017_0930_16480100 2017_0930_16481600 2017_0930_16493500 2017_0930_16495300

2017_0930_16421600 2017_0930_16425500 2017_0930_16431600 2017_0930_16423400 2017_0930_16415600 2017_0930_16414000“Semua disiapkan warga bersama-sama. 10 Muharam ini kita ingin berbuat kebaikan, bersedekah juga memuliakan anak yatim,” ungkapnya. (bre)

Komentar

komentar