14 Juni 2017

Butuh Perhatian, Para Maestro Tradisi Semakin Habis

By Admin Web In Budaya

Butuh Perhatian, Para Maestro Tradisi Semakin Habis

Kondisi kesenian di Lingga harus banyak mendapat perhatian dari pemerintah. Para maestro yang berjasa besar melestarikan tradisi di Lingga satu persatu telah wafat. Dampaknya, seni tradisi terancam punah jika tak ada upaya pelestarian.

“Sangat menyedihkan. Tetua kami, maestro seni di Lingga satu persatu berpulang. Maestro bangsawan, pak Ibrahim baru wafat awal Maret lalu. Sebelumnya maestro tradisi silat syekh juga telah meninggal. Kami sangat kehilangan,”kata Lazuardy, budayawan Kabupaten Lingga.

Ibrahim, nama yang disebut adalah maestro teater bangsawan Kabupaten Lingga. Ia ditetapkan sebagai maestro oleh  Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Bangsawan sendiri tahun 2015 sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Ibrahim meninggal dunia tanggal 1 Maret lalu.

Ia sudah bermain bangsawan sejak umur 16 Tahun. Saat itu bekerja di Desa Penuba, Kecamatan Selayar. “Aku sudah main bangsawan ini. Jaman itu ada Tonel, Sandiwara. Penuba dulu sangat maju,”kata Ibrahim yang biasa dipanggih Bah Ibrahim.

Pria yang menempuh pendidikan Sekolah Rakyat (SR) masa itu, belajar menggunakan mesin tik. Mengingat cerita rakyat yang pernah ia dengar. Jelas tidak hanya berlakon, diusia yang masih sangat muda, ia berdiri dibelakang layar, sebagai produser dan dan pembuat naskah. Bagi Ibrahim, seni teater rakyat ini telah mendarah daging. Ada keistimewaan saat sukses
menggelar pertunjukan. Ada kepuasan jiwa yang ia rasakan. Banyak pesan moral dan tuntunan hidup yang selalu ia selipkan.Tak ingin generasi muda lupa akan sejarah, lewat seni peran ia bertutur dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti orang banyak.

Pada Tahun 2008 silam berawal dari perkenalan Ibrahim dengan Sutamat Arywibowo. Salah seorang peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang datang ke Lingga. Ia mencari jejak seni bangsawan. Naskah-naskah Bangsawan yang pernah dibuat Ibrahim menjadi kajian Ariwibowo. Dari situ, naskah-naskah ini kemudian dicetak menjadi buku, kumpulan naskah bangsawan karya-karya Ibrahim.

Dari sana juga, mengingat peran besar dan eksistensinya Bah Brahim masuk sebagai salah satu nominasi penggiat seni tradisi. Ia kemudian menang dan didaulat sebagai Maestro Bangsawan. Penghargaan tersebut langsung diserahkan Presiden SBY.

Hasbi Muhammad, penggiat budaya di Lingga menyebutkan, pemerintah daerah kurang perhatian terhadap nasib seni tradisi. Termasuk terhadap maestro ini. Ia mencontohkan, Ibrahim tak bisa datang menerima penghargaan sebagai maestro seni.Ia gagal berangkat, namun  plakat dan dan tunjangan sebagai pelaku seni dari pemerintah pusat tetap ia dapatkan.Ia tak ingin menyalahkan siapapun. Apa yang sudah ia perbuat dan lahirnya buku kumpulan naskah Bangsawan sudah cukup membuat hatinya senang. Ada buku yang ia tinggalkan bagi generasi penerus.

Bangsawan

Mulanya teater tradisi Bangsawan dikenal sebagai Wayang Parsi, yang diperkirakan masuk ke daerah ini pada 1870-an. Seperti halnya Mamanda di Kalimantan Selatan dan Dulmuluk di Sumatera Selatan, panggung Bangsawan tergolong teater rakyat yang dalam pementasannya menggunakan babak atau episode. Lakon yang disajikan selalu berkisah tentang kehidupan istana dan sekitarnya.

Ada dugaan, jenis pertunjukan ini masuk Semenanjung Melayu dibawa para pedagang India melalui Pulau Penang. Dari hasil penelusuran Sutamat Arybowo, peneliti LIPI yang meraih gelar doktor lewat disertasi panggung Bangsawan, teater ini disebarluaskan oleh Jaffar The Turk sampai ke tanah semenanjung dan Singapura, sebelum menyebar ke Riau-Lingga danwilayah Sumatera timur.

Di daerah Riau-Lingga, panggung Bangsawan yang berkembang merupakan panggung campuran, di mana alat musik, tari, dan ceritanya sangat sinkretis. Ia dimainkan oleh masyarakat yang berasal dari berbagai lapisan, nelayan, petani, pedagang kelontong, buruh kedai kopi, atau guru. Penontonnya pun multi-etnis.

Pementasan panggung Bangsawan dilangsungkan kapan pun, tanpa menunggu hari libur. Panggung biasanya didirikan di lapangan terbuka tak jauh dari pasar atau pelabuhan. Pada masanya, pentas panggung Bangsawan ramai dikunjungi saat musim “angin selatan” (September-Desember). Pada musim ini angin bertiup kencang sehingga penduduk jarang pergi melaut atau bepergian jauh dari pulau mereka.

Struktur pementasan Bangsawan terdiri atas tiga bagian utama: prolog, dialog, dan epilog. Prolog berupa musik tablo dengan nyanyian pembuka, “Selamat Datang”, diikuti pembacaan syair dan pengantar pementasan. Dialognya dibawakan para tokoh, mengikuti jalan cerita yang berparas istana dengan beragam latar. **

 

Penulis: Dedi Arman

sumber http://kebudayaan.kemdikbud.go.id

Komentar

komentar