5 Juli 2017

Bunga Matahari Lukisan Maryam

By Admin Web In Budaya, Manusia
image

Lukisan Bunga Matahari. (foto: net)

Bunga Matahari Lukisan Maryam

Subuh itu, fajar timbul menghampar di ufuk timur. Bentangan laut muncul kembali diterangi sang matahari yang bercahaya bagai bola api yang tak pernah padam.Di kejauhan sana, pompong nelayan berarakan melaju menuju daratan yang ada bakaunya.
Makin lama pompong itu makin mendekati pulau yang sangat selatan di pesisir ini.

Ombak-ombak pun bersuara menampar tiang-tiang rumah dan pelantar warga. Suaranya berjejar seolah berkejaran dari tiang tiang rumah yang satu ke deretan rumah berikutnya yang sejajar di pinggir daratan. Sebagian ada pelantar kayu, dan sebagian lagi serupa bagan tempat menyimpan alat tangkap bagi nelayan yang ada sandaran perahunya.

Begitu juga diantara dua pulau itu, rumah-rumah kayu dengan petak-petak kecil itupun tampak mulai jelas disinari cahaya. Setelah gelap malam diambil oleh pusaran fajar yang kian menerang. Perahu-perahu kecil pun terayun-ayun oleh ujung-ujung ombak yang ditambatkan dipelantar.

Maryam terbangun dari tidurnya. Niatnya untuk sekolah dikabulkan bapak. Meski usianya sudah hampir delapan tahun. Disibaknya selimut kecil yang terbuat dari bekas karung beras itu. Bergegas ia mandi dari baskom kecil yang sudah diisi bapak waktu senja kemarin.

“Bapak, ini hari pertama masuk sekolah Maryam,” celetuk anak ingusan itu sambil memasang baju kemeja putih dan rok warna merah yang menutupi hingga lututnya.

“Apa kau benar-benar ingin sekolah, Nak?” Tanya Bapak dengan nada sunguh-sungguh sambil memasangkan topi pet yang sewarna dengan baju yang dipakai Maryam.

“Iya Pak!”

“Apa kamu tidak malu bergaul dengan mereka?”

“Tidak Bapak. Maryam benar-benar ingin sekolah, seperti Muti” jawab Maryam meyakinkan orang tuanya yang selama ini dikenal sebagai Orang-orang Laut di pesisir pulau-pulau ini.

Percakapan singkat itu terhenti. Maryam duluan naik sampan. Bapaknya pun telah siap naik kolek kecil yang berukuran sekitar lima kaki. Duduk dipaling depan, Maryam terus menatap pulau kecil yang satu-satunya memiliki ruangan tempat berkumpulnya anak-anak di pulau tersebut. Sedangkan Bapak berdiri sambil mengayuh kiyau yang terbuat dari kayu lakis.

Ombakpun tidak terlalu besar. Namun arus yang mengalir diantara dua selat itupun tidak menyurutkan semangat bapak untuk mengantar putri sulungnya mengenyam pendidikan untuk pertama kalinya.Meski di musim utara alun sedikit tinggi. Namun dengan penuh tekad, bapak mengayuh kolek seukuran lima kaki. Diayun gelombang, anak dan bapak itu sampai di pulau yang bertuliskan gerbang pintu masuk desa Penaah.

###

Awalnya, bapak masih ragu untuk menyekolahkan anaknya di Pena’ah. Bukan apa-apa. Karena jauh sebelumnya, rombongan keluarga bapak masih sering berpindah-pindah dari pulau ke pulau lainnya.
Menggunakan sampan, yang ada atap terbuat dari daun jakas. Kajang yang berbentuk segi tiga itu digunakan sebagai pelindung dari teriknya mentari.

Ketika musim selatan, laut tidak bergelombang kuat. Alun juga tenang. Rombongan keluarga bapak sering mengembara. Bersama lima hingga sepuluh sampan kajang. Bahkan mereka berhari-hari, bahkan bermalam-malam berlayar di lautan yang luas. Mungkin saja, laut itu rumah bagi keluarga bapak.
Namun, setelah musim utara itu, akhirnya rombongan keluarga bapak memilih menetap di sebuah selat yang nyaman. Terlindung dari deras angin yang kuat. Dikelilingi oleh ribuan pohon bakau yang kokoh dengan akar-akarnya yang menancap di pinggir daratan. Hingga saudara bapak membangun rumah petak dari kayu dengan bentuk yang sederhana, dan ada pelantarnya. Serta memasang bubu dan jaring untuk menangkap ketam renjong.

Dari situ, sekali-sekali pada musim tertentu, bapak pun sering mengembara. Pernah suatu hari. Ketika Maryam telah berumur 10 kali bulan purnama. Bapak pergi mengembara dengan sampan kajang kecilnya serta ditemani sebilah serampang bermata segi lima dan gumpalan benang maupun mata pancing serta seekor burung bayan piaraan bapak. Kata ibu Maryam, Bapak pergi menjenguk keluarganya dibelahan pulau-pulau yang lain. Menyebrangi lautan dan gelombang di musimnya.

Kepergian bapak meninggalkan ibu dan Maryam sekitar 10 kali purnama. Namun akhirnya Bapak Maryam kembali ke rumah sebelum datang musim utara. Biasanya sekalian membawa bekal untuk keluarga. Juga untuk Maryam.

Bukan takdir, bukan pula nasib bagi Maryam. Kepergian bapak mengembara sudah menjadi kebiasaan. Bahkan ritual tersendiri bagi bapak yang sudah terlanjur lahir, dan besar diatas sampan Kajang. Begitu kebiasaan leluhur keluarga bapak.

Konon kabar. Keturunan Bapak adalah orang-orang selamat dari ‘Kojoh’ . Jauh berabad-abad yang silam mereka telah hidup di sampan Kajang. Hingga sekarang keluarga bapak masih menjaga keasrian laut, tempat mereka menyambung kehidupan.

Sejak dibangunnya rumah persinggahan. Keluarga Bapak Maryam mulai bergaul dengan warga di sekitar pulau-pulau yang tidak jauh dari selat tempat keluarga bapak berteduh dari dingin malam dan teriknya mentari serta beringasnya ombak utara. akhirnya keluarga Bapak Maryam perlahan menerima masukan. Apa lagi, adanya saran dari Pak Penghulu, orang tua Maryam memberanikan diri agar anaknya masuk sekolah seperti anak-anak seusianya.

“Pak Penghulu. Maryam mau sekolah. Terimalah ikan hasil tangkapan hambe ini. Jika ada Pak Penghulu berkenan hati,” lirih suara orang tua laki-laki Maryam ketika menyampaikan niatnya pada Pak Penghulu dipulau yang kecil bundar itu.

Pak Penghulu sadar. Kalau orang tuanya Maryam belum mengenal mata uang. Seperti Orang-Orang Laut lainnya. Bagi mereka cara yang paling baik adalah pertukaran barang dengan barang. Selain dengan hasil tangkapan, tak jarang mereka juga menukarkan hasil kerajinan tangan mereka seperti kolek yang ada kiyaunya kepada nelayan yang ada disekitar pulau pulau kecil itu.

“Baik Pak. Dengan tulus, pihak sekolah menerima Maryam, hari ini Maryam boleh masuk sekolah” sambut Pak Penghulu untuk menerima seorang putri selat yang dengan iklasnya berniat untuk mulai bersekolah seperti halnya anak-anak di pulau Penaah.

###

Hari-hari berganti seperti biasanya. Lautpun bergelombang serupa biasanya. Setelah hari pertama masuk sekolah. Maryam sudah terdaftar disalah satu sekolah dasar. Ia mulai belajar membaca, menulis serupa anak-anak seusianya.

Seperti biasanya, Maryam sudah diterima Pak Penghulu sebagai anak angkat. Ia tidak lagi bolak-balik setiap hari menyebrangi alun gelombang antara selat dan Penaah.

Pernah satu kali, Maryam harus pulang ke selat. Ia memberanikan diri mengayuh kiyau sendiri. Alun yang cukup deras akibatkan koleknya terbawa arus. Untung seorang nelayan dengan pompong yang melintas ketika itu dapat menolong. Akhirnya Maryam selamat. Setelah itu, titah Pak Penghulu Maryam tinggal dirumahnya.

Pagi yang indah. Maryam juga sudah bisa menulis dan membaca seperti siswa di sekolah lainnya. Bahkan menghafal ayat pendek pelajaran agama Islam. Buku latihan matematikanya pun hasil tulisan Maryam sendiri. Saat ini, buku latihan matematika itu bertuliskan Maryam kelas V SD.

Langitpun terlihat biru. Hari cukup cerah dan indah. Anak-anak seusianya terlihat berbaris menggunakan seragam muslim. Guru-guru sekolahpun berbaris rapi.

Selesai baca doa bersama sebelum masuk kelas, Maryam berdiri didepan kelas yang bertuliskan kelas V. Sorot matanya menatap kearah seorang perempuan yang berpakaian putih-putih berjalan melintas di depan sekolah. Perempuan itu persis mirip petugas kesehatan dengan perangkat alat-alatnya.

“Maryam, Ayo masuk!” Sapa ibu Luyiana.

Duduk di deretan bangku paling depan, Maryam merapikan duduknya dengan Muti. Salah satu anak tuan tanah dipulau tersebut.

“Hari ini kita pelajaran menggambar. Ayo keluarkan buku gambarnya!” Seru ibu Luyiana.

Seluruh siswa bergegas mengeluarkan buku gambar. Maryam juga mengeluarkan buku gambar yang dibelikan istri Pak Penghulu.

“Silahkan menggambar!” tutur bu Luyiana.

Kelas ini sangat ditunggu-tunggu Maryam. Ia lebih suka menggambar diatas kertas polos itu. Menggunakan pensil dua B. Maryam suka menggambar wajah neneknya. Kalau tidak, Maryam menggambar seorang petugas kesehatan yang mengobati neneknya.

Ketika ditanya Muti, kenapa ia suka menggambar petugas kesehatan dengan alat tensimeternya. Maryam selalu menjelaskan jawabannya pada Muti.

“Muti, hambe ingin jadi perawat. Agar bisa mengobati keluarga hambe. Karena nenek hambe meninggal tak dapat pertolongan. Ketika itu, nenek sakit akibat jatuh dari pelantar. Namun tidak ada petugas kesehatan diselat, akhirnya nenek meninggal dunia,”lirih Maryam.

“Saya cukup sedih mendengarnya Yam,”tutur Muti mendengar penjelasan Maryam.

“Tak apa-apa. Jangan bersedih.Semoga nenek bahagia di alam sana,”lirih Maryam.

Siang itu Maryam terlihat jauh lebih fokus. Kali ini ia justru tidak menggambar wajah. Namun Maryam menggambar serupa pot yang ada bunganya. Batang bunga itu ada tiga. Lurus keatas. Serta tergantung daun daun kecil serupa gambar hati.

Tepat disudut kanan ada satu buah bola sinar di atasnya. Diatas sekali Maryam memberi judul gambarnya “bunga matahari”.

Catatan:

Kolek: perahu kecil terbuat dari kayu ukuran sekitar 5 kaki.
Kiyau: batang pendayung untuk kolek.
Serampang: senjata tradisional nelayan di Lingga.
Hambe: Sebutan subjek saya di dialek Melayu.
Kojoh: sebutan banjir bagi dialek Melayu Daik, Lingga sekitarnya.
Sampan Kajang: perahu kecil khas milik Suku Laut di Lingga.

 

Penulis:
Nofriadi Putra. Lahir tahun 1983 di Belubus Kab. 50 Kota. Alumni Universitas Negeri Padang. Sekarang tinggal di Daik Lingga. Reporter di Media Cetak di Kepri dan menyukai sastra sejak bangku kuliah. Aktif dalam komunitas sastra Lingkar 9

 

Komentar

komentar