18 Mei 2017

Biola

By Admin Web In Budaya
biola 1

ilustrasi. (foto: hasbi)

Biola

Leman berdiri sejenak, menatap ke luar jendela. Menyaksikan bayang-bayang pohon tua yang berada di samping rumah panggung milik bapaknya. Udara cukup sepoi di luar. Lalu ke dalam rumah, dilihatnya kalender   lama tergantung di tiang tengah dengan gambar Soekarno yang sedang hormat bendera. Lalu dihadapan poster itu, diliriknya  juga tas biola tua yang sudah lama tidak tersentuh. Dilihatnya tas itu  lebih dekat, sebuah cap dengan merk yang tinggal sebagian saja, Stradivar.

Raut mukanya terlihat tidak tenang.  Seperti ada yang terlintas di benaknya.  Sejak Pak Ucunya meninggalkan rumah dan menetap di kota Gurindam, ia sering sendirian main di rumah. Rumah yang dulu tempat kakek dan neneknya menjemur bilis hasil tangkapan ikan di laut kala siang hari. Hingga sekarang diteruskan oleh Bapaknya. Bahkan di halaman rumah itu tempat berkumpulnya anak-anak muda kampung ketika  bulan purnama sebesar kuali.

Perasaan tidak puas terlihat di wajahnya. Dibukanya kembali almari itu. Almari yang kacanya pecah dipukul  oleh Bapak lantaran marah kepada Pak Ucu.  Leluasa debu hinggap di buku-buku itu. Diambilnya satu, buku gambar yang pernah dilihatkannya kepada Pak Ucu dulu. Seperti ada kerinduan Leman pada pamannya. Namun, ingatan itu seolah buram, karena peristiwa yang pernah disaksikan oleh matanya sendiri.

Kemarahan Bapak waktu itu cukup beralasan.  Hanya karena Pak Ucu ingin melanjutkan pendidikannya ke kota Gurindam.  Serta melatih kepiawaiannya bermain biola. Biola milik Bapak yang sering dimainkannya  tanpa sepengetahuan Bapak di pinggir pantai yang tidak jauh dari rumah.

Entah kenapa Bapak tidak membolehkan Pak Ucu melanjutkan sekolahnya dan juga bermain biola. Padahal,  adik kandung bapak yang paling kecil itu sangat menyukai dan piawai  memainkan alat musik gesek.  Pak Ucu ingin sekali menjadi violin terkenal dan tampil di panggung kabupaten dan juga La Colline teater, Paris.

Sedangkan Bapak.  Apa yang tidak dimiliki Bapak.  Hasil kelong perbulan lebih dari cukup untuk membantu biaya sekolah Pak Ucu. Belum lagi sewa pompong perbulan dari nelayan, serta sewa jaring dari  Pak Acip tetangga sebelah, cukup memenuhi kebutuhan keluarga.

Leman pernah menanyakan sendiri  alasan tersebut kepada Bapak. Kenapa Bapak tidak setuju dengan Pak Ucu melanjutkan sekolah  ke kota Gurindam dan memainkan biolanya. Waktu itu, alasan Bapak sederhana.”Untuk apa sekolah? Dan siapa yang bakal meneruskan usaha Bapak, mengolah kelong, menjemur ikan dan bilis atau melanjutkan usaha dagang Bapak!” hanya itu alasan Bapak. Itu saja.

Orang-orang juga tahu dengan keluarga Bapak. Bapak satu-satunya nelayan muda yang selamat dari kejaran lanun di selat Berhala itu. Itu juga karena keahlian Bapak dalam membela diri. Silat kuntau yang dikuasainya. Silat yang dipelajari ketika  di Pulau Mepar dulu cukup untuk membuat Bapak selamat, hingga Bapak mempunyai keturunan sampai memiliki anak satu-satunya, Leman.

Sejak di marahi  itulah,  Pak Ucu meninggalkan rumah. Sejak itu pula  Leman tidak lagi mendengarkan lembut gesekan biola Pak Ucunya. Biasanya setiap sore, sepulang menjemput ikan dari Kelong, Pak Ucu selalu mengajak Leman untuk menemaninya bermain biola di ambunan pantai. Apabila dimainkan Pak Ucu, Leman akan senang sekali mendengarkannya.

“Man! Pak Ucu ingin ke Museum Paris,  Colline teater,  juga melihat biola Atok di sana!” Lugas kata itu yang selalu diucapkan Pak Ucu kepada Leman setiap kali selesai  memainkan biola dan selalu bermain dalam ingatnya.

Leman heran. Ia sendiri tidak tahu. Kota apa yang dimaksud Pak Ucu. Ia  hanya tahu kota Gurindam dua belas. Pemakaman Merah di Daik Lingga, serta pasar Pancur, tempat Bapak  membelikannya pakaian baru dan bagus kesukaannya. Itu karena jaraknya pun tidak jauh dari desa Leman yang letaknya di timur pulau yang gunungnya bercabang tiga dan dihuni sebagian nelayan dari pulau seberang. Bapakpun sering mengajaknya dharmawisata ke sana.

Di mana keberadaan kota Paris, Leman sendiri tidak tahu persis. Sejak  memakaikan seragam sekolah hingga sekarang, boleh dikatakan ia tidak pernah ke luar dari kepulauan  ini. Serta, di sekolah tempat Leman belajar sendiri, hanya memiliki beberapa buku bacaan saja. Itupun hanya berupa poster-poster lama. Bahkan yang ia kenal hanya beberapa  tokoh yang namanya sering ia dengar di Radio saja.

“Kalau kau bosan di rumah. Kau boleh ke kelong bantu Along. Ini musim Selatan. Udang lagi banyak,” ungkap Bapak ke Leman.

“Saya ingin mendengar gesekan biola Pak Ucu lagi. Sejak Pak Ucu tidak di sini. Rumah ini sepi.”

“Apa hal yang dapat diambil dari Pak Ucumu itu. Di suruh dagang ikan ke Temasik ia tidak mau.  Di suruh bikin Kelong di Pulau Kriting ia tidak mau. Mau jadi apa? Apa kamu kira Bapak tidak tahu,  setiap sore hari Pak Ucumu itu kerja gesek biola terus. Apa seperti itu yang kamu suka?!”  Bentak Bapak.

 

Leman diam. Tak mau bicara sedikitpun. Suasana seperti ini  paling tidak ia  suka. Apalagi menjawab pertanyaan Bapak. Sebab, persoalannya akan semakin rancu dan runyam. Apa lagi melihat wajah sangar Bapak.

“Kalau kamu tamat sekolah nanti, kamu harus lanjutkan usaha Bapak. Dagang ikan ke Temasik. Kami sudah sepakat dengan ibumu! Titik!”

Leman berlalu, ia keluar dari ruang makan. Di biarkannya sagu yang sudah dicampur santan itu di atas meja. Pikirannya hanya pada Pak Ucunya yang di kota Gurindam itu. Ingatannya, hanya kata-kata Pak Ucunya. Paris!

****

Radio transistor itu masih berbunyi. Diiringi suara angin selatan yang bertiup diujung daun pohon tua di samping rumah. Setelah siaran warta berita, pembawa acara melanjutkan siaran musik dangkung. Suara gong diiringi rintihan biola itu sangat mengusik telinga Bapak.

Bapak naik ke serambi. Mematikan radio yang sedang bernyanyi. Lalu Bapak bersandar di dinding serambi  yang terbuat dari kayu hutan. Sambil menghitung sisa hasil tangkapan nelayan bulan ini.

Tiba-tiba Leman datang, berlari dengan maksud mendengarkan radio. Sayang Bapak duduk di sampingnya. Lagi membuka catatan-catatan usaha Bapak. Wajah Leman memasam, terlihat dari kerut keningnya.

“Pak, saya mau mendengarkan radio. Ada siaran musik dangkung jam ini,”

Bapak tidak menjawab, hanya diam, lalu menutup lembaran kumal itu. Sambil mendekati Leman yang sedang berwajah masam.

“Nak, Bapak tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Itu saja.“

Leman membisu. Melayangkan pandangan ke arah pantai. Terik matahari terlihat memantul di laut. Raut wajahnya seolah tidak suka Bapak duduk di samping radio yang ingin didengarnya.

“Sejak kejadian itu, Nak. Bapak merasa kehilangan.  Itu juga tanpa sengaja. Karena orang-orang sekampung meminta. Agar orang tua Bapak memainkan alat gesek satu-satunya yang ada di Kampung waktu itu.”

“Maksud Bapak?”

“Sudahlah! Kalau kau bosan di rumah, kau boleh bermain di kelong, atau menjaring udang di sana bersama Along, penjaga kelong kita,” kata Bapak sambil membuka kacamatanya.

 

Wajah Leman semakin masam.  Wajah ingusan yang tadinya dipenuhi rasa kesal, sekarang berubah seperti mereka-reka apa yang telah  disampaikan Bapaknya.  Ia semakin penasaran. Seakan ingin mempertanyakan kejadian yang dimaksud Bapak. Tiba-tiba saja, tangan Bapak  memegang bahu Leman. Sambil berjalan turun dari serambi.

Bapak terus masuk ke rumah. Leman masih tergugu di serambi. Hati yang tadi hendak mendengarkan gesekan biola dan musik dangkung, sekarang redup begitu saja.

Leman berdiri penasaran. Dilihatnya Ibu yang sedang menjemur bilis di halaman. Tudung manto yang menutupi kepala ibu seperti membayang ditanah ditempa terik matahari yang panas. Ibu seolah sudah tahu dengan gelagat anaknya.

“Bu, apa maksud yang di katakan Bapak. Apa sebenarnya yang terjadi Bu. Ibu jujur saja pada Leman.”

“Cuaca sedang bagus Nak. Bisa untuk mengeringkan bilis kita hari ini.”

“Bu, katakan Bu. Apa hubungan semua ini dengan Pak Ucu. Sampai Pak Ucu tidak mau lagi datang, dan tinggal di rumah bersama kita dan Bapak?”

Ibu menghentikan kekaran bilis. Lalu Ibu mendekati Leman yang penuh penasaran.

“Duduk di sini Nak, kamu berdiri dibawah terik. Dekat sama Ibu,”Ibu menarik nafas, berjalan ketempat rindang dan mendudukkan tubuhnya. Wajah tegar Ibu terlihat di matanya.

Seketika ibu mengeluarkan suara. Menceritakan tentang kakek Leman.Orang tua mertuanya, yang hanya dijumpai sekali saja waktu pernikahannya dengan suaminya.

Kakek Bapakmu, atau  kakek buyut kamu, dulu pemain biola terkenal dikampung ini. Semua telinga terkesima bila kakek buyutmu memainkan biolanya. Kakek buyutmu itu  bermain biola dari pentas kampung ke kampung lainnya, hingga ke kota-kota bandar di Semenanjung. Sampai kakekmu jadi seniman kerajaan.

Biola yang dipakai kakek buyutmu itu pemberian oleh salah seorang turunan raja dari Temasik waktu itu. Hanya karena ketertarikannya untuk mendengarkan kepiawaian Kakekmu bermain biola. Setiap ada pesta kerajaan di sini, atau di Temasik, kakekmu selalu diundang untuk menampilkan pertunjukan biolanya. Dari kerajaan di Temasik yang jauh, undangan selalu sampai dirumah ini, hanya untuk mengundang kakekmu bermain di Temasik.

Bukan itu saja. Semua warga  yang menyaksikan Kakekmu bermain biola akan terpesona. Mereka akan berbondong-bondong datang ke panggung kerajaan kalau tahu kakekmu akan bermain. Bahkan, kerajaanpun membolehkan warganya untuk menyaksikan pertunjukan kakekmu.Lambat laut kakekmu sangat disegani.

Tapi entah mengapa, seiring waktu itu, Putri kerajaan yang paling kecil  menyukai permainan biola Kakekmu. Hingga putri kerajaan jatuh hati padanya. Pada hal ia tahu kakekmu sudah punya keluarga. Entah apa pula yang membuat putri raja itu tertarik sama Kakek kamu itu. Mungkin saja karena kepiawaiaannya memainkan biola, atau mungkin saja karena setiap sesudah memaikan biola di istana,  selalu ada tamu raja yang menitipkan bunga mawar pada Kakekmu.

Tidak dapat disangkal Nak, putri raja ingin mendapatkan Kakekmu. Bersuamikan Kakekmu waktu itu. Tapi kakek kamu tidak menyadari, kalau Engku Putri itu menyukainya. Apa boleh buat. Anak raja suka.Lalu Raja memerintahkan pesuruhnya untuk menemui Kakekmu yang sudah berkeluarga dikampung itu.

“Tapi Bu, Pak Ucu ingin sekali ke Paris. Ia bercita-cita untuk melihat biola Atok di sana. Tapi kenapa Bapak selalu melarang keinginan Pak Ucu? Ini semua tidak adil, apa hubungannya dengan Kakek?” sela Leman kepada Ibu.

“Man kamu masih anak-anak, belum pantas ibu ceritakan,”

“Tapi Bu, kasihan Pak Ucu! Hanya karena Kakek violin terkenal, lalu Pak Ucu tidak tinggal di rumah bersama kita.  Harus pergi ke Kota Gurindam.   Apa Pak Ucu  baik-baik saja di sana?” Lirih Leman sambil melihat kepada Ibu.

Sementara, Ibu diam sejenak. Mendengarkan kata-kata anaknya.

***

Malam itu, Jarum jam menunjukkan jam satu malam. Senyap kampung dihiasi suara angin yang meniup nyiur di luar. Di rumah panggung tua yang masih berwarna papan itu seluruh penghuninya tertidur nyenyak. Cahaya lampu teplok itu berusaha menyelinap ke dinding rumah. Seperti cicak, sesekali berbunyi.

Suara itu muncul begitu saja. Bukan dari dalam kamar Leman atau Leman yang mengigau. Bukan  suara kucing yang mengejar tikus di dapur. Namun suara itu alunannya, sangat mendayu dan menyentuh telinga.

Diam-diam suara itu terus menyelinap dari telinga hingga ke hulu hati. Bukan suara lirih atau sedih. Suara itu begitu halus, halus benar. Sehalus daun dawai dari usus domba yang digesek. Seperti berkejar-kejaran dengan suara angin yang memiuh daun-daun nyiur di luar, dan sesekali di isi suara degam ombak di pantai yang begitu dekat dari rumah.

Tiba-tiba Ibu terjaga. Seolah tidak percaya. Biola yang tergantung di hadapan poster Soekarno itu berbunyi, sendiri. Tiba-tiba ibu kaget. Kaget sekali. Ibu langsung berdiri. Di raihnya biola itu, dimainkan sebisanya. Di samping Leman yang sepertinya tertidur bermimpi,  setelah bermain di kelong dan memancing ikan bersama Along tadi siang.

 

putra

Nofriadi Putra

Lahir di Belubus 1983.

Alumni Universitas Negeri Padang (UNP)

Tinggal di Daik Lingga.

Cerpen ini pernah terbit di Jembia.

 

 

Komentar

komentar