21 Mei 2017

Biola II

By Admin Web In Budaya
biola-gelap

ilustrasi. (foto: net)

Biola

Bagian II

Nofriadi Putra

 

Leman bangun dari tidurnya.  Dentang jam dinding sebanyak lima kali di depan poster Soekarno tepat di samping tas biola tua itu membuatnya kaget. Ia berdiri. Ia harus duluan ke sekolah pagi ini.  Sebelum teman-temannya yang lain datang ke sekolah, tugas piket membersihkan seluruh ruangan harus selesai.

Diambilnya handuk dan gayung yang berisi sabun,  dan sikat gigi tanpa odol itu di atas pagu. Ia bergegas menuju mentigi.  Tak dihiraukan tubuhnya yang tanpa baju itu berlari melintas semak-semak liar.

Embun basah yang menempel di rumput menyentuh kakinya. “Ugh, Dingin!”. Tapi ia harus bergegas mengejar mata pelajaran tentang tata cara menghitung isi trapesium sama kaki dengan Pak Iguh di sekolah. Sekalipun harus mandi di mentigi akibat kemarau yang sudah melanda kampungnya hampir selama dua bulan berturut-turut.

Cahaya matahari pagi itu belum terasa panas. Gelombang di laut cukup bersahabat. Perahu-perahu kecil terlihat  terapung di sepinggir pesisir laut. Rupa-rupanya nelayan yang dari semalam  sedang menarik jaring udang.  Pemandangan yang begitu memukau pagi ini.  Seperti lukisan Leman ketika tugas menggambar di sekolah.

Setelah berpakaian merah putih. Leman memakai sepatu dan kaos kaki yang sudah sobek. Dimasukkannya  dua helai buku gambar dan buku garis-garis petak yang sudah berisi tugas matematika. Tak lupa diambil alat mainan kesukaannya. Gasing berembang dan gasing pemangkah beserta tali alit  yang sudah tiga keturunan itu juga dimasukkan ke dalam tas.

“Bu, Leman berangkat sekolah Bu,” kata Leman minta izin pada ibu yang sedang menjerang air di dapur.

“Ya Nak. Rajin-rajin sekolah, alat-alat tulismu sudah beres semua?” Tanya Ibu seraya mengulurkan tangan pada anaknya untuk disalami.

“Sudah Bu.” Jawab Leman yang  sambil mencium tangan Ibu dan berlalu menuju jalan pintas menuju sekolah di samping rumah.

Leman berlalu, Rumah Panggung itu kembali terasa sepi. Karena sehari sebelumnya, Bapak Leman sudah berangkat ke Temasik. Membawa hasil tangkapan ikan nelayan yang sudah dikumpul selama dua hari. Tinggal ibu sendiri yang beres-beres mengurus rumah, jemuran billis, dan seluruh keperluan keluarga.

Ibu benar-benar tidak habis pikir. Leman anak yang satu-satunya masih kecil. Sekarang berangkat ke sekolah. Sekolah  tempat memberikan ilmu bagi generasi penerus, termasuk Leman.

Pada hal ibu tahu, sekolah  kelas jauh  tempat Leman belajar saat ini tidak ada guru matematika, dan guru olah raga. Hanya guru Ilmu Pengatahuan Sosial dan guru Bahasa Indonesia   yang merangkap seluruh mata pelajaran saja. Itupun  di bantu juga oleh tenaga-tenag honor dari pemuda-pemudi kampung yang mengikhlaskan dirinya untuk kemajuan generasi kampung ini.***

Ruangan kelas yang belum didinding beton itu masih sepi. Belum ada satu orangpun yang datang. Tak satupun meja dan kursi yang tersusun rapi. Hanya Leman sendiri yang datang lalu meletakkan tas berbahan daun anyaman itu di meja guru yang tak ada vas bunganya.

Diambilnya sapu lidi di sudut ruangan. Leman berusaha menyapu secermat mungkin agar debu tanah di ruangan yang belum berlantai semen itu tidak beterbangan. Setelah itu Leman menjemput air di pinggir hutan yang jaraknya lebih kurang seratus meter dari sekolah. Memang musim panas dan debu saling beriringan. Air itu disiramkan Leman ke lantai ruangan yang masih berwarna tanah.

Tiba-tiba didepan sekolah SD Harapan itu Aseng muncul sambil jalan kaki.Wajah tiong hoanya terlihat pagi ini. Mungkin berjalan sekitar tiga kilo dari rumahnya menuju sekolah membuat Aseng lebih sehat dan fit. Tangannya terlihat memegang buku tugas matematika dengan garis petak-petak.

“Man, kamu sudah bikin PR matematika minggu kemarin?” Sapa Aseng teman sekelas yang baru datang.

“Oh, sudah Seng.  Kata Pak guru hari ini dikumpul.”

“Man, bagaimana cara menghitung luas trapesiumnya, saya belum mengerti Man?” sambung Aseng.

Leman meraih tas di atas meja yang tidak ada bunganya itu. “Caranya mudah, sisi sejajar dikali setengah, kali tinggi,”  kata Leman sambil  mengeluarkan juga buku gambar yang sudah dilukis. Sebuah kapal besar yang melintas laut dengan tiang pancang yang cukup tinggi. Terlihat seperti kapal nelayan yang lengkap dengan troll dan pemutar jaring.

“Wah, ini gambar kamu yang lukis Man?”

“Iya. Ini gambar lama. Gambar ini sudah saya lihatkan ke Pak Ucu saya.Waktu ia di sini. Sekarang  ia sedang di kota Gurindam,”

“ Kenapa Pak Ucumu sampai di sana..”

“Hmm, Pak Ucu saya belajar biola di sana. Kata Pak Ucu saya, dari sana, dia mau ke Paris!” Lirih Leman.

“Paris?!”

“Ya, Paris!”

“Ooo..Yang ada menara yang tinggi itukah?”

“Ha..! kamu tahu?” Tanya Leman dengan raut muka yang penuh penasaran.

“Iya, saya ingat. Kemarin waktu Kak Budi datang ke Rumah saya. Dia pernah bawa potongan koran lama dengan gambar yang ada manaranya dengan tulisan Paris.Waktu itu  ada juga  profil yang namanya  Jean Baudrillard Man! Tapi koran itu di bawa Kak Budi kembali ke Tiongkok, untuk membungkus bilis,waktu itu,” kata Aseng bersemangat menceritakan pengalamannya setelah membaca potongan koran yang mengupas keindahan peradaban Paris dan tokoh-tokoh yang termashyur di dunia kesusastraan itu.

Leman terdiam karena belum tahu persis seperti apa bayangan kota Paris yang dimaksud Aseng. Leman hanya bengong mendengarkan pengalaman temannya. Mendengarkan cerita dari laki-laki turunan tiong hoa yang memiliki saudara yang merantau ke  Tiongkok.

***

Matahari naik setombak. Puluhan anak-anak berseragam merah putih belum juga kunjung masuk ruangan untuk belajar. Mereka asyik bermain dibawah rindang pohon ubi kayu yang berada di samping sekolah  mengisi waktu sambil menunggu kedatangan guru mereka.

Mata mereka fokus pada gasing Leman yang masih berputar kencang. Setelah Leman memangkah gasing berembang milik Aseng, Leman membersihkan titik putaran gasing yang terus berputar.

Sesekali tawa renyah keluar dari anak-anak ingusan kelas empat Sekolah Dasar yang sudah di sunat rasul pada libur panjang tahun lalu. Sebagian dari yang lain memangkah gasing yang lainnya. Kadang-kadang bergantian. Giliran yang dipangkah   memangkah gasing yang lain pula. Terus menerus, hingga bergantian.

 

 

Tiba-tiba suara lirih seorang ibu memanggil dari balik gedung sekolah yang belum didinding sampai ke atap itu. Leman berdiri, melihat sekeliling. Ternyata Bu Ipah yang mengajar di ruang kelas enam memanggil di depan kelas. Sambil melambaikan tangannya untuk datang ke depan ruangan itu. Leman bergegas ke tempat Bu Ipah.

Sementara teman-teman yang lain masih melihat putaran gasing yang belum berhenti. Sedangkan sebagian lagi memulai memutarkan tali alit ke gasing pemangkah, untuk memangkah gasing berembang yang sudah diputarkan. Sepuluh pasang mata bening itu fokus melihat gasing masing-masing.

Dari bawah pohon ubi itu,  terlihat Leman bercakap dengan Bu Ipah. Entah apa yang disampaikan oleh Bu Ipah kepada Leman. Sebagian teman-temannya menatap pada mereka berdua.Pada hal, biasanya setiap Senin pagi mata  bening itu berada diruang kelas  belajar matematika.  Tapi Entah kenapa guru mereka tak kunjung datang.

“Ada apa Man!” Tanya Mail pada Leman.

“Kita diperbolehkan pulang,”

“Kenapa emangnya?”

“Pak Iguh pergi ke kota,”

“Tugas kita bagaimana?”

“Dikumpul sama Bu Ipah,” ungkap Leman dengan wajah kurang bergairah. Seketika itu juga, permainan gasing mereka terhenti. Masing-masing memungut gasing yang masih berputar  diatas tanah.

***

Sekitar sebelas murid kelas empat yang berseragam merah putih itu terlihat keluar dari ruangan kelas yang mempunyai dinding setinggi satu meter saja. Leman, Aseng, Mail dan teman yang lain berjalan dibawah terik. Mereka berpisah di simpang tiga yang ada pokok durian. Mereka menuju kampung dan desa masing-masing.

Leman kembali menyusuri jalan setapak yang sering dilewatinya. Jalan pintas yang dekat menuju rumah dari sekolah. Di sepanjang jalan, dijumpainya bapak-bapak yang terlihat istirahat menebang kayu. Sebagian ada yang duduk diatas tumpukan kayu nipah yang sudah dipangkas duri.

Sampai dirumah, Leman ditanya Ibu.

“Cepat pulang sekolah Man? Ada apa Man?”

“Kata Bu Ipah, Pak Iguh  ke kota, menjenguk saudaranya,”

“PR-mu?”

“Dikumpul sama Bu Ipah,” jawab Leman sambil buka sepatu dan langsung masuk ke rumah.

Melihat langkah Leman, ibu  sepertinya sudah mengerti apa yang terjadi dengan anaknya di sekolah. Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat Leman yang terus menuju ke kamarnya.

Sementara di luar sana terik mentari terus menyinari bumi. Tak terkecuali puncak gunung bercabang tiga itu. Sesekali tiupan angin menampar daun-daun nipah, nyiur-nyiur biru bahkan bakau-bakau  di pinggir laut. Perahu nelayan yang ada layarnya terus bergerak ke tepian.  Sebagian perahu lagi   beratap kajang didayung oleh laki-laki tua sambil berdiri.

Rumah Panggung itupun semakin jelas terlihat dibawah sinar matahari. Apalagi kala bola api itu muncul di angkasa dengan garang ditemani biru langit siang. Keluasan angkasa yang begitu cemerlang. Kadang kala dihiasi camar yang terbang rendah, bahkan hinggap di atap-atap kelong yang semakin melapuk.

Di dalam rumah, Leman menggantungkan baju sekolahnya di sebelah almari. Di hadapan poster Soekarno dan sebuah tas biola yang telah berdebu. Sesaat, ia melirik tas biola tua  itu. Tas biola  yang mereknya  tinggal sepotong saja, Stradivar. Saat itu pula ia ingat akan Pak Ucunya, dan kata-kata yang sering diungkapkan padanya, “Paris!”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

komentar