Beranda Manusia Suku Laut, Pengembara Terakhir Kepulauan Lingga

Suku Laut, Pengembara Terakhir Kepulauan Lingga

1500
0

 

Foto dan Naskah Oleh Muhamad Hasbi

Orang suku laut. Begitulah orang-orang Lingga, Kepulauan Riau (Kepri) menyebut mereka. Mereka dikenal sebagai suku asli di kawasan ini. Jauh sebelum dibukanya pusat kesultanan Melayu Johor-Pahang-Riau-Lingga yang berpuncak tamadun berada di Daik, Pulau Lingga pada abad ke 19 orang suku laut lebih dulu mendiami pantai-pantai pesisir ini.

Mereka hidup bekelompok. Tinggal di sampan kajang (sampan kayu dengan atap daun nipah atau kajang). Sebuah sampan dihuni oleh satu keluarga kecil: ayah, ibu dan anak.

Kehidupan mereka berpindah-pindah. Mengkuti musim angin laut dan mencari pesisir yang aman dan tenang untuk melakukan perburuan ataupun hanya sekedar singgah dan beritirahat. Mencari air tawar yang bersih untuk minum ataupun mandi dari perigi-perigi atupun anak sungai yang mereka temukan.

Orang Suku Laut juga dikenal sebagai pengembara lautan. Tinggal, hidup dan kebutuhan yang mereka perlukan diambil dari laut. Musim menjadi tanda alam, saat gelombang laut terlalu kecang pada musim selatan yang terjadi sekitar bulan Mei hingga September misalnya, orang suku laut akan berpindah ke bagian utara pesisir Lingga. Begitu juga sebaliknya mulai November hingga Maret mereka akan berpindah ke Selatan saat laut begitu kencang dengan gelombang utaranya.

Pola ini telah menjadi kebiasaan, sebab dengan sampan kecil yang hanya berukuran 3 sampai 4 meter yang digunakan baik sebagai rumah maupun alat tangkap mencari kebutuhan hidup dari makanan yang tersedia di laut.

Tak jarang, saat laut tidak lagi memberikan hasil karena musim yang selalu berubah-ubah, sesekali orang Suku Laut juga berburu di darat. Mereka adalah pemburu hewan berkaki empat yang hebat. Baik babi ataupun pelanduk dibantu anjing-anjing pemburu yang selalu dibawanya berlayar bersama.

Di pesisir Lingga, sedikitnya terdapat puluhan kelompok suku laut. Secara pasti, jumlah mereka tidak dapat diketahui karena belum ada pendataan yang tuntas.

Kelompok-kelompok yang ada dipimpin oleh seorang kepala suku. Dalam sebuah kelompok, terdapat 20 hingga 40 kepala keluarga (KK). Tersebar dari pesisir selatan hingga utara pulau Lingga. Seperti di Pulau Mensemut, Selat Kongki, Pulau Hantu, Pulau Linau Baru, Mentengah, Pulau Lipan, Dapur Arang Kelumu, Pulon, Pulau Senang, Tajur Biru, Rejai, Koka dan Mentigi di kecamatan Senayang, Lingga.

Meski hidup berpindah-pindah alias nomaden, bukan berarti orang suku laut tidak memiliki kebudayaan.

Kebolehan mereka dalam bertahan hidup, menombak ikan, bahasa, filosofi maupun pengobatan tradisional hingga kesenian seperti Bedalong dan Kriuk Keresau mulai banyak menjadi perhatian bagi para peneliti Entomusikologi dan Sejarah yang bertaraf internasional.

Seperti contoh kunjungan Prof Margareth Kartomi dari Monash Univesity Australia. Kearifan budi pekerti orang Suku Laut yang ramah terhadap lingkungan pesisir, menjadikan alam sebagai tempat tinggal dan berbagi hasil laut, adalah bagian menarik yang dapat ditemukan dalam kehidupan orang-orang suku laut.

Perlahan-lahan, perubahan mulai tampak dari pola orang-orang Suku Laut hari ini. Mereka dari kacamata pengelolaan pemerintahan disebut Kelompok Adat Terpencil (KAT) yang menjadi salah satu program pemerintah Indonesia. Baik daerah maupun pusat. Campur tangan dan keterlibatan pemerintah, sedikit banyak merubah pola-pola Suku Laut, yang tentunya dapat dilihat baik dan buruk. Terlebih lagi soal identitas yang terobang-ambing lewat program-program yang perlu ditata ulang ataupun di kaji lebih lanjut sebelum membuat kebijakan.

Hal ini dimaksud, agar perhatian yang diberikan kepada KAT, dapat berjalan searah. Tanpa menghilangkan sebuah identitas namun juga memberikan hak-hak istimewa terhadap kehidupan suku laut baik itu kesehatan, pendidikan maupun tempat singgah yang memadai.

 

Ibu dan anak Suku Laut di sampan kajang mereka (Foto: Muhamad Hasbi)

Hilangnya Identitas Suku Laut Lingga dan Kebijakan Yang Salah

Banyak pendapat maupun tanggapan orang pintar dan pemegang kebijakan hari ini menganggap kehidupan suku laut adalah terkebelakang, ketinggalan, kolot dan kotor. Sehingga perlu sebuah perubahan besar. Seolah-olah, tinggal berkeluarga dalam sampan bukanlah pola yang baik dan sehat. Berpindah dan menjadi pengembara lautan bukalah kehidupan yang sesungguhnya. Seorang manusia, ataupun keluarga hari ini adalah mereka yang tinggal layak. Memiliki rumah, kendaraan, penerangan listrik dari PLN, ponsel canggih berlayar sentuh, air yang dialiri jaringan pipa maupun pendidikan yang mampu dibayar dengan uang serta pakaian yang bersih dan wangi. Kulit yang lembut, rambut yang tersisir rapi, pakaian yang disetrika tanpa kusut adalah kehidupan yang disahihkan pada hari ini.

Sementara kehidupan suku laut, hidup mengembara dan sampan kajang yang menjadi rumah beserta laut sebagai halaman yang luas tidak termasuk didalamnya. Menjadikan filosofi bakau yang mereka jaga, sebab dipercaya sebatang bakau mampu menghidupi satu keluarga tidak menjadi sebuah filosofi hebat orang-orang Suku Laut memaknai anugerah sang pencipta. Hidup bersebati dengan alam.

Di lain hal, pada saat ini pemangku kebijakan lewat program sosialnya begitu gencar memberi sentuhan langsung kepada suku laut ataupun KAT. Mereka didata kemudian dibangunlah rumah-rumah agar mereka tinggal dan menetap. Sebab, laut bagi orang kebanyakan adalah tempat yang berbahaya. Sebenarnya, tidak pula bagi suku laut.

Di pesisir Lingga, bisa kita temukan kini banyak sekali rumah-rumah pelantar berbahan kayu yang dibangun dan diperuntukkan bagi orang suku laut. Rumah-rumah yang sangat-sangat sederhana, berdinding papan dan sedikit jendela. Atap dipasangi atap seng yang hanya berjarak 2,5 Meter di atas kepala. Sementara jamban dan tempat cuci kakus yang sehat tidak tersedia. Begitu juga penerangan listrik yang terpaksa tetap menggunkan petromak dan lampu teplok seadanya.

Lain pula cerita dengan warga suku Laut di Dusun II, Dapur Arang, Desa Kelumu. Rumah-rumah yang semula dibantu pemerintah di tepian laut dan pelantar, kini warga diminta pindah ke darat yang katanya lebih aman. Rumah-rumah pun dibangun lebih layak, lengkap dengan penerangan listrik 1×24 jam, siang malam.

Mereka yang dulunya menggunakan sampan sebagai alat transportasi kemana-mana, kini mulai menggunakan kendaraan bermotor untuk bersiar. Begitu juga pekerjaan, dengan sumber daya manusia (SDM) dan pendidikan yang tidak memiliki, menjadi pembalak kayu satu-satunya pekerjaan yang bisa orang suku laut di Dapur Arang dapat bekerja.

Bomba, kepala suku laut Dapur Arang Kelumu beberapa waktu lalu sempat menuturkan sulitnya beradaptasi dan memulai pola kehidupan baru. Sejak lahir dan besar di sampan kajang, memulai kehidupan dan bekerja di darat adalah sebuah hal baru.

Meski memiliki tempat tinggal yang lumayan baik, rumah yang diberi secara cuma-cuma, untuk terus menerus menetap didarat bukanlah hal mudah. Hasil laut tidak selalu banyak. Musim adalah kendala utama. Saat laut tidak memungkinkan, warganya dikatakan Bomba yang telah menetap terpaksa melakoni pekerjaan didarat seperti menebang pohon untuk dijual. Sebab, tidak ada pekerjaan maupun balai yang disiapkan untuk orang-orang suku laut untuk melakoni profesi yang lebih baik.

“Tidak mudah memulai cara baru. Dulu kami tinggal dilaut berpindah-pindah. Sekarang sudah menetap didarat,” kata Bomba.

Keuntungannya, adalah anak-anak mereka yang bisa tetap bersekolah. Ikut belajar mengenal huruf dan angka dibangku sekolah negri desa Kelumu, berbaur dengan anak-anak orang melayu ladi. Namun, selalunya anak-anak suku laut meski cepat beradaptasi dan menyerap ilmu pendidikan yang diajarkan guru, minat bersekolah anak-anak masih sangat minim. Rata-rata putus sekolah di kelas 5 dan 6 tapi tidak melanjutkan lagi pendidikan ketingkat yang lebih tinggi. Pendidikan formal belum terbiasa dan menjadi jaminan bagi orang suku laut untuk kehidupan yang lebih baik.

“Kita orang suku laut, hidup itu tinggal didalam sampan kajang bersama keluarga. Mencari makan dan hidup bersama-sama,” kata Bomba lagi.

Sementara program-program pendidikan yang lebih khusus bagi suku laut, seperti sekolah alam dan kemampuannya menguasai dan terbiasa dengan laut, belum ada sama sekali di Lingga maupun wilayah Kepri lainnya. Sekolah yang ada adalah sekolah formal dan sangat biasa. Program dan kurikulum masih kikuk untuk diikuti anak-anak suku laut. Sementara motivasi sekolah juga belum pernah muncul dari orang tua mereka, yang memang hidup dan belajar langsung dari alam. Bukan sekolah.

Namun begitu, bukan berarti anak-anak suku laut dibiarkan buta aksara. Langkah Cik Gu Dezy Dias di Selat Kongki, Desa Penaah, Kecamatan Senayang menjadi sukarelawan melawan buta aksara bagi suku laut adalah salah satu metode yang perlu dikembangkan dan mendapat perhatian. Orang Suku Laut wajib mengenal huruf dan angka, paling tidak mereka tidak akan dibodoh-bodohi oleh pemerintah yang hanya mengejar proyek dan anggaran sosial namun menjadikan orang suku laut sebagai peroyek percontohan.

“Suku laut tidak boleh lagi buta aksara. Sekarang banyak juga bantuan yang kita dapat untuk anak-anak di Selat Konki, seperti buku cerita. Kami akan terus berusaha sebisa kami,” celetuk Diaz penuh semangat meskipun pekerjaannya menjadi sukarelawan suku laut cukup terbayarkan dengan kebahagian.

Suku Laut Harus Tetap di Laut

Empat tahun terakhir mengikuti perkembangan suku laut dipesisir Lingga, Ridwan Tawaqqal salah seorang penggiat fotografi di Kepri yang kini sedang menyelesaikan buku fotografinya yang burjudul The Last Nomade  mengatakan, banyak yang dapat ia pelajari dalam mencari arti kehidupan. Rasa kebersamaan, jiwa petualangan dan tidak pernah mengeluh terhadap kehidupan benar-benar dimiliki orang suku laut. Meski hanya tinggal disampan dan berpindah-pindah, satu sama lain suku laut hidup dalam kedamaian dan akur. Saling mengormati, menjaga dan menolong sesamanya.

“Memang mereka agak pendiam dengan orang asing. Empat tahun saya berbaur langsung untuk menyelesaikan buku fotografi tentang mereka. Mereka adalah survival. Tidak gegabah, sangat akur tidak pernah mengeluh sekalipun besok mereka tidak tau apa bisa makan atau tidak, orang suku laut adalah orang hebat yang berjiwa besar,” jelas Ridwan atau Wawan ini.

Sampai saat ini, kata Wawan setelah 4 tahun sembari menyelesaiakn foto kehidupan dan petualangan suku laut di Lingga, kehidupan suku laut yang berpetualang mulai punah. Kini, hanya ada beberapa kelompok saja yang masih berpetualang di laut yang memang menjadi identitasnya.

“Yang sedang saya kerjakan adalah fotografi kehidupan Suku Laut terakhir. Hanya tinggal satu kelompok saja. Kini, hanya merekalah yang masih tinggal di sampan kajang dan berpindah-pindah,” jelas Wawan.

Dari apa yang ia dapat dalam kelompok suku laut yang dipelajarinya, bagi orang Suku Laut dituturkan Wawan, daratan adalah tempat yang kotor. Daratan hanya menjadi tempat pemakaman dan tempat mereka berburu. Sedangkan sampan kajang, adalah rumah dan laut adalah halaman mereka yang suci. Baik perkawinan, kelahiran di lakukan di atas sampan.

“Orang Suku Laut, menganggap laut adalah tempat bersih dan suci. Laut adalah halaman mereka. Darat itu kotor, tempat mereka mengubur saudara-saudara mereka,” tambahnya.

Sementara pola berpindah-pindah, memang menjadi kebiasaan sebab musim laut yang tidak memungkinkan. Kegiatan ini guna menghindar angin dan badai di laut serta gelombang tinggi yang menyulitkan mereka mencari makan.

“Mereka berpindah tergantung musim. Rumah yang dibangun pemrintah hanya untuk mereka beristirahat,” jelas Wawan.

Diakui Wawan, sedikit banyak campur tangan pemerintah mengubah pola orang-orang suku laut adalah menghilangkan identitas. Secara pribadi, bukan ia tidak setuju jika suku laut mendapat perhatian. Sayangnya, perlu dilakukan kajian lebih dalam agar kebijakan tersebut tidak menghilangkan identitas. Ia setuju anak suku laut untuk dapat bersekolah dan mengecap pendidikan, namun faktanya anak-anak suku laut yang memilih putus sekolah atau hanya menyelesaikan pendidikan sampai SD juga harus dicari tau pengambil kebijakan. Bagaimana dan kenapa hal tersebut terjadi. Begitu juga pemukiman suku laut yang terbilang asal-asalan dan tidak nyaman untuk ditinggali.

“Yang kita sayangkan mengubah pola tinggal di laut dipindahkan ke darat,” paparnya.

Jika dilihat peristiwa ini, banyak sekali contoh mengapa orang-orang pesisir Lingga baik warga melayu pesisir ataupun Suku Laut lebih memilih tinggal di tepian bibir pantai. Alasan pertama karena laut adalah ladang mencari nafkah dan merupakan sumber kehidupan. Kedua, karena alat transportasi mereka, sampan-sampan jika berumah pelantar dapat selalu dicek dan terpantau saat surut, pasang maupun hujan.

Berbeda dengan alat transportasi di darat yang dengan mudah diparkirkan. Sedangkan alat transportasi laut maupun alat tangkap dan rumah sampan kajang orang suku laut, sangat rumit dan perlu perawatan ekstra. Sampan harus dilihat saat air surut agar tidak rusak, begitu juga pasang. Sementara saat hujan, sampan harus ditimba airnya agar tidak tenggelam. Dengan berumah ditepi pantai, banyak kemudahan yang dapat dilakukan. Sayangnya, hal ini tidak menjadi perhatian, namun dengan kebijakan yang tidak terarah warga suku laut dipindahkan begitu saja ke darat tanpa alasan dan pembinaan yang diberikan. Buakanpula menyediakan rumah hunian ataupun tempat singgah yang layak dan nyaman dengan bergaya artistik seperti objek wisata di Prancis yakni Borabora. Menata rumah suku laut, agar lebih baik dan benar-benar layak dan nyaman untuk ditinggali. Begitu juga perlunya menyediakan parkiran untuk sampan-sampan mereka.

Selain itu, jelas harus ada upaya lain yang perlu diberikan seperti pemberantasan buta aksara, pelayanan kesehatan khusus, pendidikan yang nonformal mampu menarik minat dan memberikan dukungan guna pendidikan sehingga bakat-bakat besar yang dimiliki putra-putri suku laut dapat disalurkan. Begitu juga kepada ibu bapa suku laut yang sebagian besar tidak memiliki data dan catatan sipil seperti KTP, KK maupun surat nikah yang sah sehingga anak-anak suku laut tidak memiliki akta kelahiran. Kebablasan kebijakan, persfektif yang salah dan kurangnya kajian terhadap kebijakan yang dibuat mengancam kehidupan suku laut sebagai aset kebudayaan suku asli terpencil di Provinsi Kepri. Penyeragaman bukanlah solusi membangun sebuah kebudayaan yang lebih baik, namun perhatian bukanlah cinta buta tanpa sebab.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here