Panorama Sungai Daik. (ft; said fauzi)

Oleh Ildaf Al Kiad*

 Pulau Pandan jauh ke tengah
Gunung Daik bercabang tiga
Hancur badan di kandung tanah
Budi yang baik dikenang juga

ITULAH  pantun pusaka Melayu zaman berzaman warisan Alam Melayu yang lahir dari karena keindahan alam Daik. Pantun yang syarat dengan nasehat dan tunjuk ajar. Jadilah orang yang berbudi baik, saat tiadapun akan terus dikenang orang. Untuk berbudi baik itu tidak mudah dan gampang. Jika kelakuan masih temberang dan sifat masih garang, budi yang baikpun jauh terbang . Bagaikan api jauh dari panggang.

Gunung Daik bercabang tiga yang tegak kokoh. Jika kita berada di Daik kita akan menghadap ke sebelah barat untuk menyaksikan keindahan gunung Daik itu. Tiga buah puncak seperti taring naga itu mempunyai nama tersendiri. Bermula dari sebelah kanan yang tegak lagi runcing itu bernama puncak Pejantan. Cabang yang di sebelah tegak besar bernama puncak Lingga dan yang paling kiri pendek bernama puncak Cindai Menangis. Dari gunung Daik mengalir sungai Daik dan Sungai Tanda membelah lembah daratan Daik, kemudian mengalir kemuara menuju laut selatan pulau Lingga.

Daik adalah perkampungan Melayu yang tenang dan damai. Untuk diketahui bahwa orang Daik sudah pasti orang Lingga, namun orang Lingga belum tentu orang Daik. Kadang sering orang tersilap, setiap orang Lingga dikatakannya orang Daik. Dalam administrasi pemerintahan daerah , Daik adalah kelurahan.

Daik pada masa Kerajaan Lingga – Riau adalah tempat bertahtanya para Sultan. Daik adalah kampung asal Sultan Lingga Riau, kampung itu masih dapat ditemukan. Kampung Robat, Damnah, dan pangkalan Kenanga adalah kampungnya para Sultan. Hari ini orang-orang Melayu Daik masih berkampung di kampung warisan itu.

Warisan keagungan masa lalu masih dapat disaksikan hari ini, puing – puing istana, makam para Sultan, masjid, meriam , keris, tombak, kampil, manuskrip, pakaian adat dan lain – lain.

Dengan warisan itulah Daik dapat menunjukkan bahwa Daik adalah tempat yang bersejarah. Sejarah adalah pelajaran bagi umat manusia. Sejarah sebuah pengalaman untuk setiap orang. Apa yang terjadi di masa lalu menjadikan pengajaran pada masa kini. Sejarah tak dapat lepas dari kehidupan manusia dan sebuah suku bangsa.

Dalam perbincangan kamis malam lalu di sebuah warung kopi di Daik bersama Lurah Daik Said Asy’ari, Direktur Utama P.T.  Batam Pos Multimedia Hasan Aspahani yang menginisiasi gerakan Lingga Geografia, wartawan Batam Pos Muhammad Hasbi, arsitek Muhammad Hudhri dan Hepri Chandra,  dua fotografer yang aktif di Lingga Photography Community, saya mengutarakan sebuah harapan bahwa ingin Daik tetap dipertahankan terus sebagai perkampungan Melayu dengan konsep perkampungan budaya, yang masih kuat mempertahankan kebudayaan dan pusat menggeliat kebudayaan Melayu. Ditambah lagi Alam Daik indah dan molek dengan Gunung Daik bercabang tiga tegak kokoh, dilihat bagaikan lukisan alam yang indah. Dari gunung itulah mengalir Sungai Daik dan Sungai Tanda yang di hulunya berair jernih. Hutan rimba Daik yang menghijau dengan berbagai flora dan fauna. Semuanya perlu dijaga dengan bertungkus lumus.

Orang-orang Melayu Daik hari ini masih mempertahankan sebagian budayanya. Sampai kini Lidah orang Daik yang masih fasih berbahasa Melayu. Prof Dr Yusmar Yusuf pakar budaya Melayu ( dalam Evy R. Syamsir. 1999:32 ) mengatakan, “Daik adalah sebuah negeri yang bertamadun tinggi, memilki taji sejarah yang tajam dan panjang. Penuturan bahasa yang halus, yang merupakan benteng lidah Melayu sekaligus benteng tamadun”.

Nama Daik telah termasyhur dan tersohor dalam dunia sastra Melayu lama sebab pantun gunung Daik telah mendunia di alam Melayu. Sejarah, budaya dan alam menyatu dalam dalam diri Daik. Daik masa kini perlu menumbuhkan seribu penyair, pemantun, penulis, pendongeng, dan para sejarawan. Orang Daik perlu membiarkan burung murai batu dan burung tiung berkicau bebas bertengger diatas ranting – ranting pohon. Membiarkan enggang mengibas bebas kepak sayapnya di udara Daik.  Tak mau menumbangkan pohon-pohon tua di bukit dan gunung. Orang Daik diharapkan tak akan merusak dan melupakan warisan sejarah masa lalu. Meriam – meriam besi tua di Bukit Cening, Kuala Daik dan puing – puing istana Sultan yang berharga itu adalah pusaka orang Daik.

Daik perlu dibangun dengan budi baik dengan berdasarkan semangat kebudayaan dan kepedulian kepada lingkungan. Jangan sampai hilang cita rasa kampung Melayu Daik akibat sebuah pembangunan. Daik biarlah tetap sebagai perkampungan yang tenang dan damai. Menjadikan Daik terus sebagai perkampungan bukan berarti anti kepada kemajuan dan seakan-akan menciptakan kekumuhan dan ketidakaturan. Mempertahankan Daik sebagai perkampungan Melayu ialah untuk mempertahankan warisan sejarah, kebudayaan dan lingkungan alam semula jadi. Mengajak orang Melayu Daik kembali ke pada kebiasaan Melayu dan menjaga lingkungan alam sekitarannya.

 

* Ildaf Al Kiad adalah nama pena dari M Fadlillah. Orang muda kelahiran Daik, Lingga, 8 April 1984 ini, adalah rujukan sejarah bagi rekan-rekannya. Kemahirannya membaca aksara arab-melayu membuka pintu baginya kepada bahan-bahan utama sejarah yang tersimpan dalam manuskrip-manuskrip warisan kerajaan Riau-Lingga.