Beranda Alam Menyusuri Sungai Daik, Menyusuri Sejarah Lingga

Menyusuri Sungai Daik, Menyusuri Sejarah Lingga

52
0

Oleh Muhamad Hasbi

HILIR mudik perahu-perahu para nelayan turun menjaring ikan. Sampan, ketinting dan raungan suara pompong orang-orang dari Kelombok memecah dari balik hutan bakau dan nipah yang berjejer rapat nyaris tanpa sela. Menyusur sungai, singgah pula ke pelantar-pelantar kampung Cina.

Tempat kapal-kapal kayu yang masuk dari ujung sebelah selatan kuala itu bersandar. Tumpukan barang kebutuhan membumbung. Diangkut dari Jambi, Palembang dan Tanjung Pinang. Mulai dari barang bangunan, gula, beras, bawang sampai pembalut wanita.

Setiap pulang mengantar barang, karung berisi sagu pula diangkut dari pabrik-pabrik hasil keringat orang sisa-sisa pertanian Sultan Sulaiman II, bekas kejayaan kesultanan Lingga-Riau.

Di sungai itu pula, perekonomian dibangun. Hiduplah kampung-kampung Orang Melayu yang datang berabad-abad lalu. Berbaur Melayu, Bugis, Cina, Siam, Keling, Jawa, Bangka, Pahang berbagi tempat menyambung hidup. Rukun, damai dan ramah.

Sungai itu tak hanya alur. Tapi menjadi jalur. Dari sanalah, nama Daik itu bermula. Tempat Sultan tancapkan kali ke dua marwah melayu yang agung. Membuka tamadun baru, pusat kesultanan terakhir sejarah besar yang bergelar Darulbirri Wadarussalam, Negeri yang Damai dan Penuh Keselamatan.

Di sebelah selatan, hilir sungainya bermuara bakau tumbuh subur dari pesisir pantai lumpur. Oleh Sultan Mahmud Riayat Syah III (1878-1812), yang memindahkan pusat kesultanan dari Hulu Riau dibangun benteng pertama. Batu-batu karang disusun persegi empat dengan empat buah meriam besar yang di tempatkan di sana.

Semakin ke hulu, 400 meter dari sana, 16 buah meriam tercokok menghadap ke sungai. Benteng Parit diberi nama yang bangun tahun 1825.

Ia dibangun oleh Sultan ke-2 Lingga Riau, Sultan Abdurrahman sebagai pertahanan di lapis kedua, jadi bukti sejarah Bunda Tanah Melayu sebagai pusat pemerintahan dua abad sebelum dibubarkan Belanda.

Semakin ke hulu, di tepian sungai bakau terdapat juga rumah singgah Suku Laut, sang pengembara lautan. Bangunan ini baru dibangun tahun 1990-an, saat itu Lingga masih kecamatan, bagian dari Kabupaten Kepulauan Riau, Provinsi Riau.

Rumah singgah ialah tempat mereka orang Suku Laut menambatkan  sampan kajang, saat laut tak ramah akibat kencangnya angin selatan. Rumah singgah, berjejer panjang yang mulai rapuh karena usia dan tak pernah mendapat perawatan.

Merekalah, orang suku laut penduduk asli pulau Lingga yang terpinggirkan.

Tumbuhan bakau masih jadi pesona tepian sungai yang payau. Bibir sungai yang landai, jadi tempat buaya berjemur. Dua tiga ekor jadi pemandangan biasa setiap kali nelayan turun melaut, seperti semakin akrab dengan mereka. Menunggu sisa-sisa makanan yang hanyut, dari limbah rumah tangga.

Sungai Daik berkelok-kelok dan tajam.

Bertemu pula, rumah-rumah panggung di tepian sungai dan pabrik sagu orang Melukap. Airnya hitam, limbahnya berbau asam menyengat. Satu dari puluhan pabrik sagu yang terus berproduksi. Sumber penghidupan pati sagu yang terus merosot dan semakin murah.

Sedangkan sampan dan pompong, terparkir rapi di tepian rumah yang membelakangi sungai.

Tak jauh berbeda dan banyak yang berubah seperti catatan Aswandi Syahri, sang budayawan Kepri yang termashur menerjemahkan perjalanan seorang jurnalis Belanda Anglebeek saat berkunjung ke Daik Lingga pada tahun 1819 saat pemerintahan Sultan Abdurahman yang mengantikan ayahanda Sultan Mahmud Riayat Syah III.

Ia menuliskan sebuah jurnal Verhandelingen van het Bataviaasch Genootchap van Kunsten en Wetnschappen yang terbit di Batavia pada tahun 1826. Dalam perjalanannya, Angebeelk menuliskan berbagai hal yang ia temui di Daik Lingga tahun 1819 tentang Kuala Daik, Sungai, Sarang Meriam, Istana dan Masjid Sultan Lingga Daik, dalam artikel berbahasa Belanda yang diberi nama “Gambaran Singkat Pulau Lingga dan Penduduknya”.

Rumah-rumah masyarakat di pelataran Sungai Daik. ft. hasbi

Kampung Cina dan Pasar

Di seberang Kampung Melukap hari ini, terpisah oleh aliran sungai utama sungai Daik itu, terdapat sebuah pemukiman orang Thiung Hoa. Mereka adalah bagian dari orang Melayu Daik.

Lokasi ini, menjadi pusat perekonomian dan pasar yang dibangun pertama kalinya oleh Sultan Mahmud. Sebagai pusat dagang dan jalur ekonomi kesultanan Lingga dan masih aktif hingga hari ini.

Sungai menjadi akses penting kapal-kapal dagang berlabuh dan bersandar.

Ratusan warga Thiong Hua, menjadi toke-toke dan pilar utama perdagangan. Mereka hidup berbaur dan berdampingan dengan pribumi. Toleransi telah terbangun baik sejak dulu hingga sekarang. Rumah-rumah, gudang, pasar ikan dibangun ditepian sungai. Terdapat juga Klenteng Tian Hau King, yang konon dibangun pada tahun 1800-an.

Klenteng ini menjadi salah satu benda cagar budaya (BCB) yang kini terdaftar di Kabupaten Lingga.

Di Kampung Cina ini, ada pula bekas Masjid Keling dan Rumah Kapitan Keling. Tak jauh dari sana, masih di tepian sungai pemukiman Kampung Bugis dan Kampung Gelam.

Agama, suku dan batas negara boleh dan bisa hidup berdampingan di Bunda Tanah Melayu.

Tak jauh dari sana, masih di tepian sungai terdapat pula sebuah rumah panggung besar milik Datok Laksemana, Jendral Laut Kesultanan Lingga.

Angebeelk menyebutkan:  pulau Lingga, tempat kediaman orang Melayu asli. Terletak di bawah garis khatulistiwa di antara pulau Sumatera dan Kalimantan. Berbatasan dengan Selat Melaka di sebelah barat lautnya serta pulau Bangka di sebelah tenggara. Sungai utama pulau ini bermuara di sebelah selatan, sumber airnya berasal dari pegunungan. Mekama waktu tiga sampai 4 jam bila dilayari. Semakin ke hulu semakin dangkal. Namun mengandung air tawar yang jernih. 

Pohon-pohon rindang yang diceritakan Anglebeek masih alami.

Semak-semaknya lebat ditumbuhi berbagai jenis tanaman. Bisa ditemukan jenis bakau, nipah atau kajang, kelapa, sungkai, bintaro, pandan, rotan, sagu dan semak lainnya. Berjejer kampung-kampung dan rumah-rumah nelayan dibibir sungai dengan rumah panggungnya.

 

Kampung Tua dan Puing Istana Kenanga

Anglebeek dalam catatannya menceritakan secara jelas kondisi bangunan Istana Kenanga milik Sultan Abudurrahman. Ia datang melalui jalur sungai yang begitu penting. Kini lokasi tersebut, merupakan kampung tua. Tempat tinggal warga kampung Mentok dan Kuala Rokam. Tempat bersandar kapal Angebeelk dan kapal-kapal uap milik sultan Lingga.

Tapak bangunan dan jalan yang lebar dalam catatan Angebeelk, kini telah ditumbuhi semak belukar.

Pelabuhan singgah tempat kapal-kapal sultan bersandar telah lama rubuh. Hanya terdapat sisa mesin uap batu bara yang terpuruk ke dalam sungai yang keruh.

Istana Kenanga, tak jauh dari sana. Alun-alun yang di sebut Angebeelk, dikenal dengan nama lapangan Hang Tuah. Kini menjadi tempat kegiatan dan pergelaran seni yang semakin penuh akibat banyak tumbuh bangunan baru.

Terdapat pula sebuah sekolah arab, bangunan sekolah yang dibangun oleh Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II dan kini berusia 150 tahun. Kondisinya cukup baik dan terawat. Bangunan sekolah masih dijadikan tempat belajar mengajar dan berganti nama SDN 001 Lingga.  Sekolah tertua di provinsi Kepri.

Bekas bangunan puing Istana, kini semak belukar. Tidak terawat dan terbiarkan. Bak lupa sejarah, hal-hal penting itu ditinggalkan. Perhatian daerah dan LAM luput.

Hulu Sungai Yang Jernih

Sungai adalah nadi kehidupan. Menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi sejarah hidup manusia. Keberadaanya dari dulu sangat erat dengan kerajaan di Nusantara. Sebagian besar kerajaan besar, boleh dikatakan dibangun di tepian sungai. Menjadi akses penting, jalur transportsi, perdagangan, ekonomi dan kebutuhan air bersih. Tanpa sungai yang baik yang terjaga, boleh dikatakan hancurlah sebuah negeri.

Semakin ke hulu Sungai Daik, pemandangan indah dari hijaunya tumbuh-tumbuhan terpampang puncak Gunung Daik yang bercabang tiga itu. Semakin ke hulu, air semakin jernih. Ikan-ikan, udang galah banyak disana. Airnya semakin dangkal, jernih dan tawar.

Terdapat pula makam-makam bergaya arsitektur aceh di Kampung Pahang. Puluhan makam para ulama dan kerabat Raja Aceh yang datang ke Lingga.

Tak jauh dari sana, bekas pabrik sagu Milik Sultan Sulaiman II dibangun. Salah satu komoditas dan program ketahanan pangan serta ekonomi masyarakat dan pekerjaan bagi rakyat yang dibangun sultan.

Pabrik ini disebut bangsal sagu. Namun sudah hancur, hanya puing sisa-sia. Semakin ke hulu, airnya semakin dangkal. Kini aliran sungainya semakin rusak. Banyak aktivitas tambang pasir masyarakat.

Jalur ini berhulu di Gunung Daik. Airnya dari Air terjun Angsa. Lokasi ini juga menjadi salah satu trek pendakian ke Gunung Daik. Banyak terdapat makam-makan lama, seperti makam Megat Kuning dan Is Samak Yah, perempuan pemimpin suku Laut orang mula-mula yang mendiami pulau Lingga.

Kondisi sampah di Sungai Daik. akibat rendahnya kesadaran masyarakat dalam merawat lingkungan. Sungai menjadi cerminan kehidupan. ft. ferdyoi

Sungai Daik Kini dan Pemanfaatannya

Aliaran sungai Daik hari ini, masih terus digunakan. Sayangnya, rumah-rumah warga membelakangi aliran sungai. Akibatnya, sungai menjadi tempat sampah, limbah dan jamban yang dibuang ke sungai.

Penataan dan pemanfaatannya belum terarah. Meski menyimpan sejuta sejarah, menjadi asal mula nama Daik, tempat yang disebut-sebut sebagai Bunda Tanah Melayu itu luput dari perhatian dan kebijakan pemerintah.

Selama pemanfaatan dan penataan belum dilakukan dengan baik, sungai tidak akan pernah terjaga.

Padahal, salah satu fungsi dan pemanfaatan sungai boleh dimanfaatakan sebagai aset pariwisata. Potensi dan aset sejarah seperti yang penulis paparkan, belum dimanfaatkan. Rumah-rumah warga harus ditata.

Mau tidak mau, rumah-rumah tidak boleh membelakangi aliran sungai. Jarak bibir sungai dan pemukiman harus dibatasi dengan dibangun jalan wisata. Seperti halnya sungai Malak, warisan budaya internasional di Malaysia itu, Sungai Daik juga miliki potensi yang sama. Jika jalan-jalan dibangun, akses sungai dapat dimanfaatkan oleh kapal-kapal wisata, jembatan yang terlalu rendah karena tidak bisa dilewati saat air pasang ditata ulang, tentu hal ini memberikan keuntungan daerah yang begitu besar. Keuntungan yang jelas dirasakan adalah sungai yang terjaga dengan baik. Menjadi sumber air yang sehat bagi orang kepulauan.

Dunia hari ini begitu gencar melakukan perhatian terhadap aliran sungai dan air bersih.

Dampak kekeringan, berkurangnya air bersih dengan penduduk dunia yang terus menerus bertambah perlu dilakukan upaya-upaya pemanfaatan dan perhatian serius.

Terlebih Lingga yang hanya memiliki wilayah empat persen daratan dengan sumber air bersih yang terbatas. Jika sungai tidak mendapat perhatian, perlahan tapi pasti akan menjadi seperti di Bintan dan Batam, kelangkaan air juga akan terjadi.

Maka perlu menjadi pemikiran serius bagi komunitas, lembaga maupun pemerintahan mengambil momentum Hari Air Dunia (HAD) yang jatuh tiap tanggal 22 Maret untuk memberikan langkah konkrit dan perhatian terhadap aliran sungai sebagai sumber mata air.

Dalam pemanfaatannya, sungai dapat menjadi sumber kehidupan dan penyediaan air bersih yang bersekala panjang. Dengan catatan tetap terjaga. Selain itu, sungai dapat menjadi sumber atau saluran irigasi bagi pertanian dan budidaya perikanan. Seperti digalakkannya percetakan sawah di kabupaten Lingga, mau tidak mau perlu diberikan perhatian serius terhadap sungai.

Sungai disebut-sebut juga boleh menjadi pembangkit tenaga listrik. Sumber air gunung dari air terjun yang perlu dimanfaatkan secara manusiawi juga menjadi tempat pelestarian habitat ikan. Yang lebih menarik, sungai menjadi aset pariwisata. Sebagai penyumbang ekonomi dari banyaknya wisatawan juga memberikan ekonomi bagai masyarakat yang menjadi pengelola.

Manfaat lain sungai, dapat dijadikan sebagai lokasi olahraga. Seperi renang, lomba kano. Namun beberapa tahun terakhir, banyaknya predator buaya yang masuk hingga kepemukiman warga di tepian sungai juga membuat kenyamanan ini berubah menjadi ketakutan warga. Perlu diberikan tempat seperti penagkaran untuk mengelola aset hewan langka yang ada di Lingga. Selain itu, sungai juga menjadi tempat santai atau relaksasi. Seperti memancing dan mandi.

Fungsi yang jauh lebih penting, mengingat jalur sungai Daik adalah pusat perekonomian, jual beli dan pasar serta industri sagu masyarakat perlu ditata lebih baik. Sungai menjadi pintu masuk utama kapal-kapal laut dan tempat bersandar yang lebih aman.

Sungai juga menjadi jalur transportasi warga pesisir Lingga.Untuk menghubungkan 604 pulau-pulau di Lingga dengan transportasi pompong dan pemukiman warga, sungai adalah akses tercepat.

 

* Muhamad Hasbi adalah jurnalis, fotografer, dan musisi berlatar pendidikan etnomusikologi.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here