Beranda Alam Besaman, Zikir Saman, Seni Islami Orang Kelumu

Besaman, Zikir Saman, Seni Islami Orang Kelumu

130
0

Desa Kelumu, sebuah kampung nelayan kecil di Daik, Kabupaten Lingga, Kepuauan Riau, pada awal didirikan bukanlah tempat yang ramah. Ada saja gangguan dari makhluk yang bukan manusia, yang membuat penduduk yang menyebut diri sebagai Melayu Ladi itu, diserang sakit, atau kejadian aneh lainnya.

Penduduk dibuat tak betah tinggal di pemukiman baru tersebut. Lalu datanglah seorang ulama, yang menjadi imam di sana yang mengajak warga melakukan ritual yang kini dikenal dengan nama Besaman, sebuah zikir yang konon awalnya diciptakan oleh seorang tokoh bernama Syekh Saman.

“Kata orang tua seperti itu. Di kampung selalu ada gangguan saat pertama kali warga membuka pemukiman di sini. Masyarakat selalu saja mengalami gangguan, penyakit dan hal-hal di luar nalar manusia. Hingga datanglah seorang imam yang mengajak menggelar Besaman. Sampai sekarang, setiap 1 Muharam kami di sini terus melestarikannya,” kata Auzar, tetua Kampung Kelumu.

Tradisi Besaman itu hingga kini masih dipertahankan oleh penduduk Kelumu, dan digelar tiap 1 Muharam. Selain menyambut tahun baru Islam, juga diniatkan untuk membela kampung. Membela (baca huruf e seperti pada kata “membelah) adalah kosa kata Melayu yang padan dengan kata “merawat”.

Biasanya tradisi ini digelar usai salat Isya. Warga dan jamaah mulai memadati ruangan masjid. Duduk bersila, membetuk sebuah lingkaran. Lalu zikir-zikir dibacakan dengan nada-nada yang indah. Ratusan kali berulang-ulang. “La ilaaha illallah!”

Semakin lama, tempo yang disertai gerakan kepala bak tarian sufi meninggi.

Mulai dari posisi duduk, menjongkok hingga lingkaran jamaah berdiri dan berputar mengikuti garis lingkar diikuti gerakan tangan. Tak jarang, satu hingga dua orang hilang kesadaran, di puncak kalimah zikir yang semakin cepat.

“Semakin khusyuk, membuat orang boleh tak sadarkan diri,” kata Auzar.

 

Keturunan Filipina

Orang Melayu Ladi meyakini pendahulu mereka adalah orang-orang keturunan dari Filipina. Mereka datang merantau, dan berbaur dengan orang-orang Melayu Daik. Keberadaan mereka di saat Kesultanan Lingga masih berdiri sangat diakui oleh Sultan Lingga.

Mereka bahkan dianggap sebagai anak angkat Sultan yang bermahar tinggi.

Semuanya telah memeluk Islam dan umumnya bekerja sebagai nelayan. Jika kita lebih teliti, wajah-wajah orang-orang Kelumu Melayu Ladi memang terlihat berbeda. Auzar yang juga mengakui hal tersebut.

“Kami keturunan Melayu Ladi. Asalnya dari Filipina. Setiap orang tua di panggil Ayah. Dan sudah lama memeluk Islam,” kata Auzar.

Sapaan Ayah, menjadi ciri khas bagi setiap orang tua di Kelumu. Meski kini telah berbaur dengan orang-orang Melayu Daik, namun sejarah asli mereka masih menjadi bagian dan jati diri orang-orang Kelumu.

Soal Bela Kampung, kata Auzar, tiga hari sebelum menggelar Besaman, jalur sungai yang menjadi tempat aktivitas melaut dan transportasi tidak bolah digunakan.

Artinya, warga yang nelayan pun tidak melaut, karena sungai sedang dibersihkan. Ini menjadi kesepakatan bersama oleh seluruh warga.

Selain Kelumu, kampung Sertih salah satu dusun di desa tersebut juga menggelar ritual kampung atau melarung. Tempat-tempat lain di Lingga seperti Teluk, Batu Belubang juga masih melestarikan tradisi nenek moyang ini.

 

Zikir Saman dan Nyanyian Islami

Orang Kelumu masih menjaga satu tradisi religius lain yaitu Zikir Saman. Berbeda dengan Besaman, meskipun mirip nama dan bunyinya.  Zikir saman adalah nyanyian dengan alat musik membranofon.

Menggunakan gendang satu muka yang berukuran besar dengan diamter hingga 40 centimeter.

Mirip dengan gendang Turki. Di Lingga, gendang ini disebut Gendang Bebane. Lazim digunakan orang-orang dalam nyanyian Barodat yang kini juga mulai meredup dan terancam hilang.

Zikir Saman dimainkan oleh 12 orang penabuh dengan 12 instrumen gendang Bebane.

Posisinya duduk bersila membentuk lingkaran. Seni ini dimunculkan dalam kegiatan khataman dan juga pernikahan. Seni berkelompok.

“Nyanyiannya dari kitab Syekh Saman. Bertuliskan arab melayu. Tapi sekarang, sudah sangat jarang. Boleh dikatakan tidak ada lagi,” kata Auzar.

Di rumahnya, masih tersimpan alat musik tersebut. Satu gendang Bebane yang masih utuh dan beberapa buah baloh (badan gendang) yang sudah tidak memiliki membran atau kulit lagi.

“Gendang Bebane ini jadi musik pengiringnya. Dulu waktu kita kecil-kecil lagi, senangnya belajar dengan orang-orang tua. Sebelum melaut, kita belajar. Saat Khataman, acara pernikahan dan juga malam takbiran menyambut hari raya Zikir Saman ini kita mainkan,” katanya.

Ada sejumlah motif pukulan. Ibu dan Anak. Ketukan 4/4 dan temponya semakin cepat hingga endingnya.

“Sekarang, cuma saya dan ipar saya saja yang bisa bermain Bebane. Ada cengkok dan nadanya rendah. Berbeda dengan nyanyian Berzanji. Anak-anak muda tidak ada yang mau belajar, makanya seni ini menghilang,” terang Auzar mencemaskan masa depan Zikir Saman.

Minat anak muda menjadi salah satu masalah terancam hilangnya seni ini. Namun ia tetap optimis dan mau berbagi kepada siapa saja yang ingin belajar.

Sementara itu, di rumah salah satu warga lainnya Tira, perempuan 70 tahun, kitab Syekh Saman masih tersimpan rapi.

Kitab antik tersebut, masih menggunakan kulit kayu gaharu sebagai sampu;nya. Bertuliskan arab melayu atau huruf jawi.

“Ini kitab di simpan dari zaman nenek saya masih hidup. Diturunkan ke ibu dan sekarang saya yang simpan. Sudah sangat lama,” tutur Nek Tira mengenang nyanyian Zikir Saman yang selalu riuh dirumahnya dulu tempat orang-orang Kelumu berkesenian. hbre

 

* Penulis adalah jurnalis, fotografer, musisi berlatar belakang pendidikan etnomusikologi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here