Beranda Alam 3 Puncak, 1.200 Meter DPL, 9 Jam Mendaki, Sejuta Takjub

3 Puncak, 1.200 Meter DPL, 9 Jam Mendaki, Sejuta Takjub

294
0

SEPOTONG pantun yang amat terkenal membuat Gunung Daik menjadi semacam legenda hidup. Menjadi seperti mitos yang nyata. Pernah ada seorang wisatawan dari semenanjung Malaysia yang datang ke Daik hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa gunung itu memang benar-benar ada, bukan sekadar sebut-sebutan dalam sampiran pantun itu:

Pulau Pandan jauh ke tengah
Gunung Daik bercabang tiga
Hancur badan dikandung tanah
Budi yang baik dikenang juga

 

Gunung itu Daik nyata ada. Keelokannya yang menjulang, dengan puncaknya yang bercabang tiga menyimpan cerita rakyat tersendiri yang tak pernah lekang dari masa ke masa.

Gunung Daik, adalah ikon alam kabupaten Lingga. Puncak tertingginya disebut Daik. Puncak tengah yang berbentuk segitiga dikenal dengan nama Pejantan sedangkan puncak paling rendah di sebut Cindai Menangis.

Gunung Daik, adalah puncak tertinggi di Kepulauan Riau altitude 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Diselimuti hutan tropis lebat dengan puluhan jenis tumbuhan kayu langka dan berbagai tanaman herbal.

Lereng-lerengnya yang terjal menjadi serapan air dengan puluhan air terjun yang sejuk dan mempesona. Lokasi ini juga menjadi tempat habitat burung murai, elang, bayan, serindit, punai, merebah dan berbagai jenis hewan langka lainnya seperti pelanduk dan napoh berkembang biak.

Selain keindahan alam yang dimilikinya, Gunung Daik menyimpan berbagai kisah misteri. Beragam cerita rakyat, mulai dari kisah orang Bunian, hingga patahnya puncak ke tiga Cindai Menangis yang dikisahkan dalam cerita rakyat Meninggalnya Dato Kaya Montel, sang panglima laut kesultanan Lingga.

Namun begitu, di balik kisah misteri Gunung Daik tetaplah salah satu fenomena alam yang begitu indah. Bagi para pendaki, gunung ini memiliki trek yang sangat menantang. Karena masih terjaga kealamiannya, pendaki selalu berdecak kagum setelah sampai di Gunung Daik.

Ada baiknya, sebelum melakukan perjalanan mendaki gunung Daik, para pendaki mencari informasi dahulu dengan para guide atau pemadu lokal. Sebab tentu berguna, sebagai bekal perjalanan. Bukan hanya fisik, namun mental yang harus disiapkan. Beberapa hal perlu diingat seperti pantang larang untuk tidak bersiul dan mengucapkan kata tabek yaitu salam dan mohon izin untuk masuk ke Gunung tersebut.

Untuk guide lokal, pengunjung bisa bertanya banyak dengan Pak Yasir dan Amran yang telah sangat berpengalaman membawa tamu lokal hingga dunia.

Karena bekas pusat kesultanan Melayu terakhir, tentunya hal ini juga menjadi penting. Masih banyak petuah dan kebiasan maupun tradisi yang kental dalam kehidupan Orang Melayu di pulau Lingga.

Selain itu, peralatan baik tenda maupun tali-temali, ada baiknya membawa langsung. Sebab, di Lingga belum ada tempat yang menyewakan perlengkapan pendakian tersebut. Sementara keadaan cuaca di Gunung Daik, sangat sulit ditebak sebab selalu berubah-ubah. Namun waktu terbaik memulai pendakian pada bulan Januari hingga bulan Agustus.

Menuju Gunung Daik

Pintu masuk pendakian Gunung Daik terletak di Kampung Sepincan. Jaraknya hanya tiga kilometer dari pusat ibukota Daik. Dari sini, pendaki akan memulai perjalan pertama menuju Pos I. Ada baiknya, memulai dengan doa bersama terlebih dahulu agar diberikan kelancaran dalam perjalanan. Sebaiknya memulai perjalanan pada pagi hari, karena jarak tempuh untuk sampai ke tungku Gunung Daik, dibutuhkan waktu 9 jam.

Menuju Pos I, perjalanan dijalur landai. Melewati hutan Getah Merah warga. Sekitar 20 menit perjalanan, akan menemukan simpang jalan menuju salah satu situs benda cagar budaya (BCB) kabupaten Lingga, yakni Makam Megat Kuning, salah seorang pembesar di Kesultanan Lingga. Tak jauh dari sana, terdapat sebuah jembatan gantung, melintasi aliran sungai kecil yang disebut Sungai Fatimah untuk menuju Pos I. Jaraknya hanya 2,8 kilomter dengan waktu tempuhnya lebih kurang 1 jam perjalanan. Pendaki akan sampai di gazebo pertama tepat ditepi sungai Lubuk Belacan. Tempat peristirahatan pertama.

Untuk menuju Pos II, perjalan akan lebih sedikit menantang. Melewati aliran sungai yang jenih tapi dangkal. Lebar sungainya lebih kurang 10 sampai 15 meter. Pendaki harus tetap berhati-hati dan mendengar arahan pemandu. Sebab sungai Hulu Daik ini sangat rawan kojoh atau banjir, terlebih saat musim hujan.

Setelah melewati aliran sungai, pendaki akan menemukan trek berupa jalan setapak yang landai dan melewati  satu sungai kecil lagi yang harus diseberangi. Baru kemudian, memulai jalan tanjakan dengan kemiringan 30 derajat. Hutannya semakin lebat, pohon-pohon kayu besar yang rindang. Ditambah suara-suara burung yang menyenangkan hati. Untuk sampai ke Pos II, dibutuhkan waktu dua jam perjalanan untuk beristirahat dan makan siang sebelum melanjutkan perjalanan yang lebih menantang.

Perjalanan ke Pos III masih melewati jalan setapak. Dikelilingi hutan dan pohon-pohon rindang. Mulai dari ketinggi 5 sampai 30 meter menjulang. Kayu kapur, keruwing, rotan, tumbuh liar. Perjalanan terus menanjak, dengan kemiringan 45 sampai 60 derajat dengan jurang terjal di kiri dan kanan jalan. Sesekali ada hamparan tanah datar untuk beristirahat. Namun perjalanan ke Pos III masih cukup jauh. Pendaki harus melewati trek paling menantang. Ada yang menyebutnya Punggung Naga, ada juga yang menyebutnya Tanjakan Setan.

Track Punggung Naga. Salah satu track paling memantang pendakian Gunung Daik. (dok.perpetual)

Jalan bukit setapak yang cukup kecil. Berliku-liku dan ditumbuhi resam dan semak. Lebarnya hanya setengah meter dengan panjang 150 meter. Disini, pendaki harus ekstra hati-hati, sebab dikiri dan kanan adalah jurang dengan kedalaman lebih dari 300 meter.

Punggung Gigi Naga sudah berada di ketinggian 794 mdpl. Sementara tidak terdapat tali pengaman yang memadai, hanya tali tambang yang diikatkan dari satu pohon ke pohon lainnya. Ada baiknya tidak melintasi jalur ini saat malam hari, karena cukup berisiko.

Menuju Pos III, dibutuhkan waktu lebih kurang 3 sampai 4 jam perjalanan, karena kemiringan yang cukup terjal dan cukup menguras keringat. Disini, pendaki bisa beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke kaki atau Tungku Puncak Daik. Dibutuhkan waktu 1 sampai 2 jam titik itu. Biasanya para pendaki sudah cukup puas jika telah mencapai titik ini.

Untuk bisa sampai ke puncak, dibutuhkan peralatan yang cukup dan nyali berlebih. Kemiringin cukup tinggi hingga 90 derajat. Perlu pemanjat tebing yang ahli. Seingat  pemandu setempat, baru ada satu orang pendaki Belgia saja yang pernah sampai di puncak Gunung Daik yang terjal itu. Tingginya lebih kurang 60 meter, dengan jurang dikiri dan kanan.

Pemandangan dari Pos III Gunung Daik

Meskipun tak sampai ke puncak, di tungku atau kaki puncak Daik itu saja, panorama hutan lebat masih menghiasi mata pendaki. Tumbuhan sentigi, seperti bonsai besar hidup melingkar diantara kabut yang selalu menutupi kaki gunung. Dari tungku, kita bisa melihat bagian utara Gunung, laut kelong dan matahari tenggelam. Letih sembilan jam pendakian terbayar lunas –

Naskah dan foto: Muhammad Hasbi.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here