Beranda Alam Parit Kuno | Teknologi Irigasi Kesultanan Lingga Abad ke 17

Parit Kuno | Teknologi Irigasi Kesultanan Lingga Abad ke 17

399
0

Jejak sistem irigasi bekas Kesultanan Lingga masih terus digali. Beberapa waktu lalu, Kasi Perlindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan BPCB Sumatera Barat, Agoes Tri Mulyono,SH yang lebih akrab disapa Pak Tri bersama dinas terkait melakukan penyusuran jaringan Parit Kuno yang diduga sebagai salah satu peninggalan abad ke 17 di Daik Lingga.

Melalui Dinas Kebudayaan, Parit Kuno ini juga telah didaftarkan sebagai salah satu Struktur Cagar Budaya. Sebagai kekayaan intelektual dan system teknologi tradisional yang telah diterapkan sejak jaman Kesultanan lagi. Pengusulan ini agar keberadaan Parit Kuno terselamatkan ditengah pembangunan. Terlebih akan ada wacana Kota Pusaka di Kawasan Perkampungan Damnah.

Menelusuri jejak Parit Kuno yang boleh dikatakan sangat sedikit sekali refrensi mengenai kapan pembangunannya berlangsung. Namun informasi dari masyarakat pernah penulis dapatkan ketika 2015 lalu saat kemarau terjadi di Daik Lingga. Tokoh Masyarakat Daik, Alm Ismail Ahmad pernah menceritakan keberadaan Lubuk Bendung dari aliran Sungai Tande. Sebagai salah seorang Mantan Lurah, Ismail cukup mengenal seluk-beluk Kelurahan Daik dan juga mengetahui informasi-informasi dari tetua di Lingga.

Lubuk Bendung kata Ismail adalah aliran Sungai Tande yang memanfaatkan tebing dibibir sungai untuk dibendung dan airnya kemudian dialirkan melalui parit. Lokasinya persis dibelakang Istana Damnah sebelah Selatan, Istana Sultan Sulaiman. Dari aliran parit inilah, Sultan mengaliri Sawah (lokasinya kampong Sawah dan Sawah Indah saat ini), juga untuk mengairi kolam wudhu di Masjid jami’ Sultan Lingga. Teknologi ini jelas Ismail sangat hebat dan jika dibandingkan dengan pengelolaan air dan sungai saat sekarang ini sangat jauh ketinggalan.Terlebih seringnya terjadi kekeringan ditempat pengelolaan air untuk masyarakat yang hanya mengelola distribusi air di Kelurahan Daik.

Sementara pada pertengahan 2019 silam, BPCB Sumatra Barat bersama pemerintah setempat mulai memberi perhatian lebih kepada Parit Kuno ini. Dari hasil studi lapangan sementara, panjang aliran parit lebih dari 1 Kilometer. Lebarnya hampir 2 Meter dengan kedalaman yang semakin mendangkal hanya tersisia 1,5 Meter. Kondisinya sudah tertutup semak belukar namun masih dapat ditelusuri.

Aliran Sungai Daik. (foto: Said Fauzi)

Dari Sungai Tande, aliran parit menuju sebelah Utara persis melewati belakang Istana Damnah. Disini aliran parit juga dialirkan untuk kebutuhan Istana. Masih terdapat kolam dan tempat mandi sultan dengan system tuas yang didinding menggunakan bata merah dengan lebar lebih kurang 2 x 3 Meter. Selain itu juga terdapat kanal disebelah Utara bekas bangunan Istana Damnah. Dari belakang Istana, Parit Kuno melewati struktur Bilik 44, galeri Sultan Muhammad kemudian parit menuju kea rah Timur (sebagian telah ditutupi pembangunan jalan) menuju Istana Kota Batu/Baru. Istananya Sultan Mahmud IV. Disini parit berada disebelah Selatan Istana dan masih utuh. Aliran parit kemudian menuju bekas Istana Robat (menurut informasi adalah lapangan Kantor Bupati Lingga saat ini). Jaringan Parit disini dibagi kedua arah. Satu ke Utara menuju Kolam Sultan dan tempat Pabrik Sagu Sultan dan berakhir ke Sungai Daik. Sedangkan cabang yang kedua menuju ke Timur, melewati Kampung Sawah Indah menuju bekas Sawah Sultan Sulaiman yang digagas dan gagal karena padi tidak cocok ditanah Lingga. Parit Kuno kemudian menuju Masjid Jami’ Sultan Lingga.

Sejauh ini, belum dapat dipastikan kapan berlangsungnya pembangunan Parit Kuno tersebut. Namun selama lebih kurang 114 Tahun, Daik menjadi pusat Ibukota Kesultanan Melayu bukan sebuah hal yang mustahil pembangunan irigasi menjadi salah satu teknologi yang diterapkan oleh Kesultanan Lingga.

Jika ditarik dari awal dipindahkannya Pusat Kesultanan Johor-Pahang-Riau-Lingga ke Daik pada 1787, Sultan Mahmud Riayat Syah dikatakan menata Bandar yang baru dengan membangun Masjid, Pasar, Benteng dan Kota Parit. Kota Parit disini menurut sejumlah sumber merupakan salah satu Istana Sultan yang berada dekat lokasi Istana Kenanga, wilayah Lapangan Hang Tuah disebelah Barat. Namun disisi lain, kata Parit juga merujuk kepada benteng pertahanan Kesultanan Lingga. Selain itu, geografis Daik merujuk kepada sebuah lokasi pusat kota yang diapit oleh dua aliran Sungai yakni Sungai Daik dan Sungai Tande sampai saat sekarang ini masih sering dilanda banjir. Dalam istilah lokal, orang Daik menyebutnya Kojoh. Dugaan yang muncul, dibuatnya sejumlah parit-parit di Kota Daik juga sebagai penangkal saat curah hujan tinggi begitu juga saat air laut mengalami pansang besar agar Kota tidak terendam banjir.

Pantauan dilapangan, terdapat juga parit-parit minor lain yang membelah-belah kota Daik. Dari informasi yang didapat, parit-parit minor ini digunakan oleh masyarakat untuk perkebunan. Seperti parit didekat SDN 004 Lingga di Kampung Putus yang menurut cerita kemudian menjadi asal nama kampong tersebut sebab dipisahkan oleh dua parit besar. Satu parit lagi berada tak jauh dari Tower XL, dekat Kantor Pos Lingga menuju Sungai Daik. Sebelah Selatan aliran Sungai Tande juga terdapat sejumlah parit di Kampung Tanda Hulu. Parit-parit ini diduga erat hubungannya dengan keberadaan Parit Kuno Kesultanan Lingga tersebut.

“Kalau menurut saya itu salah satu Irigasi, seperti Trowulan, Majapahit. Ini beda priodeisasi. Kalau di Majapahit abad 13, ini abad ke 17,” papar Pak Tri.

“Artinya, teknologi pengairan yang dibuat oleh Sultan sudah bisa digunakan oleh Kerajaan saat itu untuk pengairan, tidak hanya untuk Kerajaan tapi juga digunakan oleh masyarakat untuk pertanian dan sebagainya. Jadi Parit Kuno ini adalah system teknologi saat itu,” jelas Pak Tri ketika kunjungannya ke Daik Lingga beberapa waktu lalu.

Menurut hemat Pak Tri, keberadaan Parit Kuno ini boleh menjadi salah satu distenasi sejarah yang cukup kuat untuk memperkenalkan Lingga disisi teknologi. Pada abad ke 17, Lingga sudah mampu mengelola sumberdaya yang ada untuk kebutuhan perekonomian di Kesultanan Melayu yang dipindahkan Ibukotanya dari Hulu Riau tersebut.

“Harapan saya, Parit itu dimunculkan karena merupakan teknologi masa itu dalam rangka drinase untuk pengiran yang ada di Lingga ini. Abad ke 17 lho. Parit itu tidak bisa dipisahkan dari Kerajaan itu sendiri. Pemafaatannya boleh digunakan sebagai tempat pemandian dihulunya, di hilirnya boleh dibikin tracking, kanan kiri dibersihkan. Agar orang dapat menjelajah Parit Kuno, ini loh Parit Kuno,” jelas Pak Tri lagi.

Selain itu, Pak Tri juga mengatakan telah menyampaikan rekomendasi agar nanti penataan Kota Pusaka oleh PUPR yang dimaksud menggunakan lahan seluas 160 Hektare di kawasan Istana Damnah tersebut tidak menghilangkan atau merusak struktur Parit Kuno Kesultanan Lingga.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here