“Kekhasan seni Zapin ini ada masing-masing daerah. Menjadi jati diri. Lokal itu, harus menjadi sesuatu yang tetap dikedepankan. Agar tetap dalam kawalan ekspresi yang sesuai,” ungkap Tom Ibnur.

Maestro Zapin, Tom Ibnur memberikan motivasi dan semangat agar anak-anak muda di Daik Lingga terus menggali warisan seni dan budaya melayu. Khususnya seni Zapin. Setiap daerah memiliki kekhasannya. Memiliki warna dan ragam gerak. Sebagai kekayaan seni dan intelektual. Begitu juga halnya dengan Zapin Daik yang mulai meredup sejak puluhan tahun terakhir.

Perkembangan media dan teknologi saat ini memaksa orang-orang berguru dengan media social. Apa yang terpapar di media, di ujung negeri sana dapat dengan mudah disaksikan. Olah gerak yang semakin molek membuat pengarunya masuk secara perlahan. Begitu juga dengan gerak tari Zapin di Bunda Tanah Melayu, Daik Lingga.

Fenomena hari ini menurut Dosen Institur Kesenian Jakarta (IKJ) tersebut menjadi lumrah. Saat berlangsungnya Workshop Tari yang diselenggarakan oleh Megad Syah Alam 2016 silam, Tom Ibnur yang lebih akrab disapa Omi ini dapat melihat langsung gerak dan pengaruh tari Zapin Johor di Daik. Padahal, ia yang menata gerakan tersebut di negeri seberang tersebut sejak beberapa tahun belakangan.

Kegiatan Malam Purnama Bahasa Megad Syah Alam di halaman Museum Linggam Cahaya 2016

Pengaruh tersebut bukan tidak boleh. Menghilangkan dan menggalkan Zapin yang berkembang di Daik yang menjadi masaalah. Sebab, kalau bukan anak negeri yang menjaga jati diri ini lantas siapa lagi. Soal konsep dan bagaimana orang-orang diluar sana mengelola seni Zapin perlu dipelajari agar Seni Zapin terus mendapat tempat.

Dalam kesempatan tersebut, sejumlah tokoh lain seperti Yusuf dari Pekaka, Bahari Musai diminta juga menampilkan gerak dan ragam tari. Tak ketinggalan adik-adik Megad Syah Alam dan Sanggar Seni Langgam Selatan Dabo Singkep juga diminta menampilkan ragam gerak Alif, Titi batang, Loncat Tiong, Siku Keluang dan ragam jenis lain yang sebenarnya masih banyak ada di Daik Lingga.

Gerak tari yang menjadi ciri khas ini kata Omi, jangan dihilangkan. Tak boleh ditinggalkan.

“Kekhasan seni Zapin ini ada masing-masing daerah. Menjadi jati diri. Lokal itu, harus menjadi sesuatu yang tetap dikedepankan. Agar tetap dalam kawalan ekspresi yang sesuai,” papar Tom Ibnur.

Workshop sederhana yang berlangsung di Balirung Sri, Replika Istana Damnah tersebut dihadiri siswa-siswa SD se kelurahan Daik, SMA N 1 Lingga, SMP 1 Lingga, MTs, SMK N 2 Lingga, Sanggar Langgam Selatan, Sanggar Megad Rambai, Sanggar Sri Pelangi, Sri Baiduri, Sri Mahkota Lingga dan Sanggar Rapang Kencana Penuba. Selain itu, hadir juga peneliti Sejarah Dedi Arman dari Balai Pelestarian Nilai dan Budaya (BPNB) Tanjungpinang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lingga, Dewan Kesenian kabupaten Lingga, Nelsya Entertiment dan Radio Bunda Tanah Melayu (RBTM).

Maestro Zapin, Tom Ibnur

Sementara untuk musik melayu, Anggara Satria, pelaku seni dan penerima penghargaan composer music terbaik bersama Megad Syah Alam menjadi narasumbernya. Pelaksananaan workshop kali ini menggali lebih jauh seni tadisi lokal kabupaten Lingga dan menyamakan persepsi untuk seni tradisi khususnya membahas lebih banyak seni Zapin Daik yang menjadi pusat tamadun yang gemilang lebih dua abad yang lalu. Zapin menurutnya sangat erat hubungan dengan penyebaran agama Islam. Lagipula di Daik juga berkembang Tarekat Neqsabandiah yang beraliran sufi.Selain membahas seni tari dan musik, keindahan alam Lingga di katakana Omi, juga menjadi salah satu keharmonisan dalam berkesenian. Sejak 20 tahun terakhir kunjungannya ke Daik Lingga banyak yang sudah berubah. Namun ia berharap, Daik tidak kebablasan menjadi sebuah kota yang penuh hiruk pikuk sehingga menghilangkan nilai-nilai social. Tidak lantas berubah maju menjadi hutan-hutan beton yang menggantikan pohon-pohon. Daik telah hidup dalam kemajuan, dalam tingkah lagu, adab dan budaya masyarakatnya. Kemajuan mental. Bukan fisik.

Workshop Musik dan Tari

 

“Masyaalah, Tuhan memberi tempat yang indah yaitu Daik. Daik tak perlu menjadi kota modren, keharmosniasan, hubungan sosial, kampung tua dan sejarahnya tetap harus dijaga oleh generasi mudanya sebagai jati diri. Jika memang harus di bangun, perlu penataan dan radius agar tidak merubah Daik menjadi kota dengan hutan beton. Daik akan menjadi Kota Budaya dengan keasriannya,” harap Omi.

Kegiatan ini, terang Tom lebih kepada menyatukan persepsi bagi para pelaku seni di Lingga maupun seniman untuk lebih menggali khazanah lokal. Hal ini akan menjadi kekhasan yang kental.

“Di sini, punya ciri khasnya sendiri. Ini yang harus digali,” tambahnya sambil berbagi dalam obrolan santai dan mengajak sanggar-sanggar ikut serta memperaktikkan tarian zapin di Lingga.

Belajar bersama Maestro Zapin

Sedangkan Anggara Satria, yang sudah lebih 9 tahun berproses bersama-sama Megad di Daik, mengajak para peserta untuk membangun kesadaran berkesenian.

“Saya memang tidak lahir di Daik, tapi saya orang Daik. Materi kita lebih kepada membangun kesadaran untuk membina lebih dalam seni Daik. Kami berkeinginan bukan hanya Megad, tapi seni di Lingga harus ada kesadaran,” pungkasnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here