Beranda Alam LINGGA: GUNUNG DI KHATULISTIWA

LINGGA: GUNUNG DI KHATULISTIWA

204
0

LINGGA: GUNUNG DI KHATULISTIWA

Bagian I

Kepulauan Lingga dalam sejumlah catatan, dikenal dengan istilah Lingga Archipelago. Kepulauan dengan ribuan pulau kecil yang menjadi pusat Kesultanan Melayu terakhir. Wilayah taklukannya adalah seluruh Provinsi Kepulauan Riau hari ini. Di Laut Cina Selatan, sebelah utara Anambas dan Natuna yang dulu dikenal dengan nama Pulau Tujuh. Berbatas dengan sejumlah Negara, sebelah timurnya Pulau Kalimantan.

Di sebelah barat, Pulau Karimur berhadapan langsung dengan Selat Melaka. Ada juga Batam, Bintan yang boleh dikatakan paling maju hari ini jadi batas Kesultanan Lingga setelah Taraktat London, taktik keji penjajah dengan politik adu domba mengambil Singapura.

Di Bagian selatannya, terdapat tiga pulau besar, Senayang, Lingga, Singkep. Wilayah yang paling dimundurkan hari ini baik dalam sejarah, ekonomi dan politik kepentingan bangsa sendiri. Di ujung paling selatannya terdapat Pulau Tujuh yang lebih dikenal dengan nama Cibia atau Pekajang. Jaraknya lebih dekat ke Provinsi Bangka. Namun sejarah mencatat dan orang-orang Pekajang tetap adalah orang Daik. Orang-orang kesultanan Lingga. Penghasil Timah sampai hari ini. Ada juga Pulau Berhala yang menjadi Sengketa. Di perebutkan Jambi, karena alamnya, karena hasil bumi dan sumber daya alamnya. Tanah keras, bukan lumpur. Milik Kesultanan Lingga.

Di Bagian Selatan inilah, Lingga pulau kecil unik. Memiliki Gunung yang melagenda. Gunung Naga. Gunung yang bercabang tiga. Pulau yang menjadi makam-makam Sultan, pemimpin tertinggi orang-orang melayu. Pemimpin dan tanah berdaulat. Negeri yang bergelar Darullbirri Wadarusalam. Negeri yang tersembunyi dan penuh keselamatan. Bahasanya yang kemudian diubah menjadi Bahasa Indonesia. Bahasa yang keluar dari mulut dan lidah sebagai pemersatu. Bahasa yang entah bagaimana bisa dipahami oleh seluruh orang-orang semenanjung. Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Vietnam dan Filifina. Bahasa yang disempurnakan di Daik Lingga. Yang 100 tahun kemudian sejak 1901 dipindahkan secara kepentingan karena takut “lari” oleh orang yang mendapat gelar Sultan padahal bukan haknya.

Marwah hilang, dikutuk Lingga 100 tahun tak akan maju. Maksudnya tidak akan berkembang ditanga-tangan keburukan. Ditangan-tangan yang memang tak pantas. Pada 1999, 2 tahun sebelum kutukan 100 tahun itu habis, orang-orang semenanjung entah bagaimana datang. (baca Merawat Adab dan Akal Budi; Bunda Tanah Melayu).

Pada tahun 2002, sumpah itu terbukti. 100 tahun sudah. Kepulauan Riau mulai menjadi Provinsi. Lingga menjadi Kabupaeten. Mulai terbuka dan terbangun secara perlahan. Namun masih jauh dari harapan. Karena selama dipimpin oleh pemimpin jahil, Marwah Lingga tak akan terangkat. Sudah 16 tahun berjalan, keburukan dan ketamakan nampak dari jiwa-jiwa yang sakit. Esok, pemimpin yang sebenarnya akan datang. Seperti yang telah di janjikan. Orang baik. Orang terbaik yang pertama membuka Lingga. Orang yang berkata satu. Orang tak gila kuasa. Yang tak ada sedikit coreng dan buruknya dalam sejarah dan kata. Sampai hari ini.

Boleh diuji, tak ada orang di ceruk, hulu, hilir, pulau, bakaw tak mengenal keturunannya. Yang sekali di sebut, berdiriĀ  bulu roma. Yang diutus sebagai penjaga Pulau Naga. Pulau di garis Khatulistiwa. Pulau dengan Gunung yang sejajar dengan Ka’bahtullah seperti nyanyian Zapin, di garis Khatulistiwa. Pulau paling istimewa yang tumbuh segala jenis tanaman langka (baca; Pegunungan Lingga Hutan Paling Kaya).

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here