Beranda Alam Pulau Berhala, Keindahan yang Selalu Diperebutkan

Pulau Berhala, Keindahan yang Selalu Diperebutkan

25
0
Salah satu pemandangan indah di Pulau Berhala, Lingga, Kepulauan Riau. ft: ferdyoi

INILAH pulau yang sejak 1981 dipersengketakan kepemilikannya antara Kepulauan Riau (sejak Kabupaten Hingga menjadi Provinsi) dan Jambi.  Pada tahun 2013, secara hukum sengketa itu berakhir dengan keputusan Mahkamah Agung (MA) bahwa Pulau Berhala masuk ke wilayah Kabupaten Lingga, Kepri.

Apakah urusan selesai? Belum. Beberapa waktu lalu, Gubernur Jambi Zumi Zola mengungkit lagi masalah ini. Dalam kampanye politiknya kepada masyarakat Tanjung Jabung dengan lantang mengatakan, akan berupaya menarik kembali pulau sengketa tersebut untuk masuk dalam wilayah Jambi.

Lupakan saja dulu sengketa itu. Pulau seluas hanya 60 hektare itu terletak persis antara Pulau Singkep dan Provinsi Jambi. Bagi Jambi memiliki pulau ini memang strategis untuk meluaskan wilayah lautnya.

Pulau Berhala konon memiliki kandungan mineral dan gas bumi yang bentangannya dari selatan Pulau Berhala sampai ke Pulau Kelombok, Kecamatan Lingga.

Tapi yang pasti, yang tampak di mata adalah potensi wisatanya, kekayaan bawah laut, dengan pesona pantai pasir putih di pulau-pulau kecil tersebut, yang sejak puluhan tahun telah menjadi salah satu objek wisata. Dan itu dilakukan oleh pengusaha dari Jambi. Mereka membangun cottage, biro wisata, maka tak heran wisatawan terus datang setiap minggunya hingga saat ini.

Di sebelah utara Pulau Berhala terdapat sebuah selat, yang juga dinamai Selat Berhala. Terdapat pula, pulau-pulau kecil  yaitu Pulau Manjen, Pulau Telor, Pulau Layak, Pulau Selumar, Pulau Nyirih dan Pulau Niur. Pulau-pulau tersebut kelilingi air laut berwarna kebiru-biruan yang jernih, berpantai landai, dan sebagiannya merupakan hamparan pasir kuarsa putih dan sebagian lagi berbatu.

Jejak sejarah timpa-menimpa di Pulau Berhala. Ada peninggalan sejarah kesultanan Melayu, baik melayu Jambi maupun melayu Lingga juga terdapat di pulau ini.

Ada makam yang disebut sebagai makam Datuk Paduko Berhala, pendiri Kerajaan Melayu Jambi. Makam itu berada di lereng bukit. Ada pula meriam Katak di leher bukit. Semakin ke puncak, terdapat sebuah meriam Jepang di antara semak-semak liar.

Sedangkan di bagian bawah pulau, terdapat dapur tentara Jepang berbentuk mirip tungku penghangat setinggi 1,5 meter. Tidak jauh dari situ, ada tempat persembunyian alias bunker bawah tanah. Selain itu, di pulau Lampu juga terdapat batu bertuliskan tiga aksara, yakni aksara Sanskerta, Cina dan Latin.

Menurut warga setempat, di perairan sekitar Pulau Berhala ini banyak terdapat benda muatan kapal tenggelam (BMKT).

“Disini, menjadi salah satu tempat warga Jambi datang untuk wisata sejarah. Paketnya pun tak tanggung-tanggung Rp 1.5 juta, untuk berwisata sejarah ke sini,” ungkap Arpa, salah seorang warga Lingga yang beberapa waktu lalu berkunjung ke pulau Berhala.

Apa yang dilakukan Pemkab Lingga di Pulau Berhala tiga tahun setelah keputusan MA? Ini yang tampaknya harus menjadi perhatian.  Pembenahan fasilitas umum dan akses laut belum tersedia dengan baik. Begitu juga halnya dengan penggarapan dan arah pengelolaan potensi Pulau Berhala yang lebih dimanfaatkan oleh warga Jambi.

Pelabuhan utama pulau Berhala, rusak parah dan perlu dilakukan pembenahan.

“Potensinya luar biasa. Potensi ini, harus digarap oleh pemerintah daerah dan pemprov jika memang mau mempertahankan Pulau Berhala. Sejarahnya, juga terhubung dengan kesultanan Lingga dan sangat jelas. Bukti-bukti sejarah yang ada banyak di Lingga,” ungkapnya.

Menurut Arpa, selain pembangunan dan infrastruktur untuk mengembangkan potensi yang ada, juga perlu dilakukan pendekatan-pendekatan sejarah lewat arsip yang ada, untuk menjalin kerjasama yang baik antara dua provinsi.

Bagi masyarakat Pulau Berhala, mungkin yang penting adalah bagaimana semua potensi di pulau ini tergarap baik dan berimbas pada kesejahteraan mereka, sebesar-besarnya – Muhammad Hasbi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here