Beranda Budaya Kunang Kunang Di Laut Pulon

Kunang Kunang Di Laut Pulon

192
2

Pokok hari di ufuk arah matahari tenggelam meninggalkan jejak warna. Awan-awan bersusun begitu rapi. Seakan meninggalkan kenangan yang dilaluinya. Sebagian tepi langit dihinggapi warna jingga yang kemerah-merahan. Bercampur warna putih yang menjadikan pemandangan senja itu begitu nuansa.

Agak ketengah dari pinggir, dua orang dengan jongkong mendayung kiyau. Seakan-akan melintas hingga ke tepi. Sayap-sayap kiyaunya muncul sekali-sekali diatas permukaan laut seperti sayap kupu-kupu dari kejauhan.

Di arah yang lain, pompong dengan tekongnya terlihat meluncur dipermukaan ombak yang sedang diiringi angin musim selatan. Angin dengan aromanya yang khas. Menyentuh kehidupan pesisir  yang mulai bergeliat. Setenang permukaan laut Pulon senja itu.

Perlahan, bola matahari mulai  tenggelam. Namun sinarnya masih meremang. Barisan-barisan kelong kecil ditengah laut itupun mulai tidak kelihatan. Orang-orang di pedusunan nelayan persis di sebuah kuala itu mulai menutup jendela rumahnya. Sebentar lagi malam datang.

Sesekali bunyi pompong berdentang-dentang  melintas di sungai yang menjadi  halaman pemukiman warga yang tidak jauh dari deretan pegunungan yang bercabang tiga itu. Derap-derap langkah kemudian menyusul diatas pelantar yang agak reot terbuat dari kayu. Bahkan sinar lampu dari mesin genset pantul-memantul di permukaan rumah kayu yang  tiada  catnya.

Taruf terlihat gusar senja itu. Raut mukanya yang berusia enampuluhan terlihat dikerut pipinya.  Matanya mencari-cari seuatu di sudut dapur rumahnya. Tangan kirinya memegang segumpal kabel-kabel dan bola lampu.

” Sainah! O Sainah! Colokan kabel lampu kelong kite di mane?”

Sainah yang sedang membersihkan tumpukan kepala bilis bersama cucunya di dapur  menjawab dengan dialek khas pedusunan.

“Tadi Ambe tarok di atas pompong. Udah Ambe siapkan dekat bekal Abang, dengan kayu bakar juge,”jawab  Sainah seakan memecah keheningan di dalam rumah panggung khas pesisiran itu.

Maghrib benar-benar masuk. Cahaya malam redup. Sebagian warga yang memakai sarung lengkap  berjalan kaki ke musholla kecil yang letaknya tidak jauh dari rumah kecil yang ada salibnya.  Tempat ibadah itu berdekatan. Bahkan satu pelantar berderet dengan topekong kecil yang tiangnya berwarna merah dicampur warna biru muda.

Setelah beres semuanya, Taruf bergegas menuju musholla. Dari pakaian yang dipakainya, ia seperti mau beribadah sholat maghrib. Di musholla yang imamnya seorang Pak Haji.

“Bulan mulai muncul. Orang-orang sudah banyak yang siap-siap. Malam ini saya dan Tain bermaksud kembali ke kelong, Ji”

“Musim selatan sudah datang.”
“Iye Ji, dari dusun sebelah orang-orang-orangpun sudah siap-siap juge.”

Percakapan singkat setelah ibadah Maghrib itu berlangsung sebentar. Taruf bergegas kerumahnya. Bersiap-siap untuk berangkat ke kelong.

Sama seperti orang-orang di pedusunan lainnya. Ketika musim selatan kembali, orang orang pedusunan yang rata-rata sebagai nelayan kembali melaut. ke rumah apung.

Bahkan seminggu belakangan, kelong milik Taruf, yang ambruk akibat musim utara tahun kemarin di perairan antara dua tanjung itu, diperbaiki bersama   Tain.  Ponakan laki-laki dari tetua di pedusunan, yang dikenal sebagai orang suku. Bahkan seminggu mereka menebang kayu nibung di hutan ###

Dusun kecil itu semakin sunyi. Sesekali bunyi kecipak air di antara tiang tiang rumah panggung milik warga seperti nyanyian tersendiri. Semalam suntuk, para nelayan menjaring  di kelong. Setiap pagi muncul, mereka, rombongan pompong menuju perkampungan.

Masing-masing pompong berisi dua orang, satu lagi tekong. Bahkan pagi pompong-pompong itu bertumpuk puluhan kintau yang ada ikan basah.

Taruf, dengan Tain. Puluhan kintau yang ditatarok di ujung depan pompong mereka, hampir sama dengan teman-teman nelayan lainnya.

Apalagi di musim ini penuh rahmat. Musim yang sangat bersahabat dengan warga perkampungan. Tak jarang, pada musim tersebut mereka mengumpulkan pundi-pundi kehidupan demi hidup yang terus berjalan.

Tidak sama halnya dengan musim utara, mereka, para nelayan  tidak bisa melaut. Selain musim yang beringas, berombak, hingga nelayan dikampung tersebut tidak bisa melaut. Untuk ke kelong saja mereka urung. Selain pada musim itu laut berombak, namun mereka tetap utamakan keselamatan begitu juga pemilik pompong.

“Alhamdulillah In. Hasil kelong malam ini cukup” tutur kakek yang sudah melaut hampir separuh usianya.

Sebelum pompong mereka merapat di pelantar, Sainah dan cucunya Atan berdiri menunggu. Begitu juga dengan tetangga sebelah. Tetangga Sainah dan ibu-ibu lainnya sama berkumpul  di pelantar menanti suami mereka yang berjuang di kelong demi anak istrinya.

Mungkin sudah takdir, kampung mereka dihuni oleh keturunan orang-orang  yang mengapungkan hidupnya dilaut. Hingga hari ini mereka mencintai laut, hidup dari laut  dengan kelong, dan pancing, bubu dan sebagainya. Namun tak lupa jua jongkong atau pompong.

Sederhana. Puluhan kintau hasil kelong Taruf, di jemur Sainah. Pelantar yang semalam kedinginan pagi ini berubah suhu. Cahaya matahari cukup hebat. Awan-awan memutih. Langit biru. Cerah.

Sedangkan puluhan anak-anak kecil sebaya Atan, terlihat berlari-lari di pelantar. Wajah mereka terlihat riang. Sebagian ada yang memakai baju seragam putih merah. Namun tidak bersepatu.

Mereka terlihat akrab. Ada yang berdiri sambil merapatkan bahu. Ada yang berkejar-kejaran. Di kampung kecil berpelantar itu mereka terkenal satu keluarga. Apa yang menjadi kata tetua, kepala keluarga, dan semua warga patuh padanya. Hingga ke anak-anak cucu mereka.

###

Senja kembali tiba. Seakan di waktu yang sama. Namun diputaran hari yang sudah tidak lagi sama. Sedangkan, lukisan langit masih saja awan, berwarna. Di sayap sayap cahaya matahari yang berada di ufuk barat. Bernuansa.

Taruf duduk bersama  Sainah di beranda. Atan pergi ke musholla. Percakapan singkat itu pecah juga.

“Sainah. Kenape anak kita satu-satunya belum ada kabar. Ape die dapat kerje di pulau seberang?”

“Percayelah bang. Anak kite itu dapat bekerje. Dia dulu kesayangan mandornya.”

“Memang sayang. Kalau saja UPTS tidak tutup. Tentu Atan tidak susah payah bantu kite di kelong.”

“Sudahlah bang. Itu bukan kehendak kite. Yang jelas kita tetap berusahe!”

Suara lembut Sainah membuat Taruf terdiam. Pandangannya menerawang jauh. Namun tiba-tiba Atan datang bersama temannya Ahau.  Wajahnya riang gembira.

“Kek. Besok kami tidak sekolah. Berarti bise bantu kakek malam ini di kelong.”

“Tidak usahlah Nak. Kakek masih kuat. Kamu cukup belajar saje baik baik.” Suara nyinyir Taruf berkali-kali didengar Atan. Apalagi kalau soal untuk membantunya di kelong.

Taruf tidak kuasa menolak keinginan cucunya. Cucu satu-satunya. Dititipkan oleh ibu bapaknya. Sejak kedua orang tua Atan diberhentikan di salah satu perusahaan timah terbesar sepanjang pantai timur itu, ia sengaja dititipkan ayahnya pada kakeknya.

Atan yang dulunya bersekolah di pulau penghasil timah terbesar tersebut, harus ditinggal orang tuanya. Peristiwa sembilan puluh dua itu. anjloknya harga timah dunia, perusahaan tambang timah tempat ayahnya bekerja tidak mampu lagi memberikan kesejahteraan pada karyawannnya. Hingga akhirnya, ayahnya bersama ribuan karyawan lainya turut di tulak perusahaan. Parahnya lagi perusahaan transnasional tersebut tutup.Sampai akhirnya, ayah dan ibu Atan merantau ke pulau seberang.

Kepergian ayah Atan merantau kepulau seberang bukan tanpa alasan. Karena tidak lagi mendapatkan pekerjaan yang layak. Perusahaan yang biasanya memberikan kesejahteraan tiap bulannya,  tidak  beroperasi sama sekali.

Bukan hanya orang tua Atan, tetangganya yang dulu satu mess, Pak Lihua mengalami hal yang sama. Tak jarang sebagian ada yang merantau, atau kembali mengapungkan hidupnya dilaut.

Malam itu Atan yang belum mengerti apa-apa  sangat bersemangat. Ia duduk di muka. Tepat di depan haluan pompong.  Hilangnya warna senja berubah gelap malam, kecuali ditangan Atan, cahaya senter menerangi pompong berukuran 28 kaki.

Taruf dan Tain duduk di belakang. Mereka kembali menuju selat. Laut yang menghubungkan pulau penghasil timah dengan kediaman mereka. Setiap kali melaut hal yang paling disenanginya adalah kunang-kunang itu. Puluhan lampu-lampu dapur kelong.  Lampu-lampu kelong sang nelayan. Lampu-lampu kehidupan. Denyut nadi orang-orang di pesisiran. Lampu itu menerangi gelap malam seperti kunang-kunang ditengah laut Pulon yang ada di alis mata Atan.

 

oleh: Nofriadi Putra. Lahir di Belubus 1983. Mencintai Sastra Sejak di Bangku Kuliah. Bermastautin di Daik Lingga.

2 KOMENTAR

    • Terimakasih.. Pulaulingga.com menunggu karya-karya Bunk. Ditunggu kisah jalan-jalannya untuk di bagikan di sini…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here