Beranda Budaya Megad angkat Keramat Darah Putih dalam Parade Tari 2019

Megad angkat Keramat Darah Putih dalam Parade Tari 2019

139
0
Penari Megad Syah Alam menggunakan Tudung Lingkup yang menjadi salah satu ciri khas perempuan Daik (ft: rangga)

Sanggar Seni Megad Syah Alam (MSA) mengangkat cerita sejarah Keramat Darah Putih dalam parade tari 2019 di Kabupaten Lingga. Keramat Darah Putih ini adalah cerita rakyat yang merupakan kisah nyata dari desa Wisata Sejarah Pulau Mepar yang digubah kedalam gerak tari oleh MSA.

Penampilan yang berlangsung pada Sabtu (28/6) malam di alun-alun Bandar Sultan Mahmud Riayat Syah, Kantor Bupati Lingga tersebut mendapat apresiasi yang luar biasa dari masyarakat yang hadir.

“Kami cukup puas karena sudah memberikan penampilan terbaik yang dapat kami suguhkan,” ungkap Aan Janek, komposer MSA yang mendapat Musik terbaik dalam ajang tersebut.

Penari MSA saat GR (ft: rangga)

Meski hanya mendapat Juara III dalam ajang tersebut lanjut Aan, tidak menjadi soal. Ia memberi apresiasi kepada Juara I dan II yang kelak akan menjadi wakil Lingga dalam Parade Tari ditingkat Provinsi 2019.

” Kami senang dengan prosesnya. Kawan-kawan MSA semakin dewasa dan kompak. Soal menang kalah dalam kompetisi hal biasa, juri tentu lebih tau dan punya selera,” papar Aan.

Ditempat yang sama, Meliarika atau yang sering disapa Angah penari MSA yang juga salah satu akademisi tari Universita Negeri Yogyakarta (UNY) mengaku puas dengan proses regenerasi baru yang dilakukan setiap tahun oleh MSA. Cerita sejarah di Pulau Mepar yang diangkat tambah Angah memberi kesan tersendiri dalam proses.

Penampilan penari MSA dalam Parade Tari 2019 Lingga (ft: rangga)
Pemain musik MSA saat melakukan cek sound (ft: rangga)

“Akhirnya kami banyak belajar dan sedikit banyak tau tentang sejarah yang ada disekitar. Untuk pendalaman materi dan rasa, kami turun langsung ke Mepar dan sempat ziarah. Sosok Darah Putih ini bagi kami adalah bagaimana perempuan melayu yang jujur dan setia. Darah Putihnya menjadi bukti perempuan melayu mejaga kesuciannya,” sambung Angah.

Hal ini lanjut Angah sesuai dengan Tema Parade Tari 2019 yaitu Objek Wisata Sejarah. Lewat musik dan gerak tari, Ia berharap Wisata Sejarah di Pulau Mepar bisa terangkat.

“Semoga kedepannya kunjungan wisata sejarah Pulau Mepar lebih banyak dikunjungi. Kami MSA juga akan terus mengexplore khazanah lokal dalam karya,” pungkasnya. (bre)

Tak akan Megad hilang di Bunyi

Tak akan Megad berhenti menari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here