17 Mei 2017

5 Jam Mahasiswa Singapore Kuliah Lapangan di Lingga

By Admin Web In Alam, Budaya, Manusia
DSCF8442

Mahasiswi UNS meninjau Istana Damnah. (foto: hasbi)

5 Jam Mahasiswa Singapore Kuliah Lapangan di Lingga

Sebanyak 12 mahasiswa dan mahasiswi National University of Singapore (NUS) lakukan kuliah lapangan di sentral Bunda Tanah Melayu, Daik Lingga.

Studi Sejarah Asia Tenggara menjadi alasan kuat perjalanan tersebut berlangsung. Rombongan yang dipimpin Dosen Seni Visual dan Pertunjukan Asia Tenggara di NUS, Dr Jan Mrazek berkebangsaan Ceko mengajak para mahasiswa/i melihat peninggalan sejarah dan budaya di Daik Lingga.

Rombongan jelas Jan menggunakan Yatch atau perahu layar. Berangkat dari Batam menuju teluk Pancur sebelah Utara Pulau Lingga. Pagi-pagi dari sana, Selasa (16/5) sekitar pukul 07.30 WIB rombongan kemudian bergerak menggunakan speed pancung angkutan tradisional warga. Menyusuri sungai menuju desa Resun yang diselimuti hutan bakau (Mangrove) lebih kurang 25 Menit.

DSCF8480

Tambatan perahu desa Resun

Kemudian bergerak lagi melalui jalan darat yang membelah hutan belantara menuju kota kecil Daik yang tenang. Memulai rencana penelusuran sejarah dan budaya.

“Kita cari pasar dan sarapan dulu ya,” kata Jan  kepada tim Lingga Geografia yang menyambut rombongan dalam logat dan bahasa Indonesia yang fasih.

Ada 30 menit perjalanan dari resun ke Daik, Rombongan terhenti disebuah warung kecil di jalan Masjid Sultan Daik. Mengisi perut dengan nasi lemak dan makanan khas Indonesia. Para mahasiswa/i ada yang berbangsa Chines dan juga Eropa nampak tak canggung dengan makanan tersebut.

DSCF8426

Istana Damnah. (foto: hasbi)

Usia mengisi perut, rombongan bergerak ke Museum Linggam Cahaya. Di Komplek perkampungan Damnah. Melihat-lihat koleksi yang disambut ramah penjaga.

Ada juga Lazuardy, staf dinas Kebudayaan yang menjelaskan satu persatu koleksi museum. Mulai dari peninggalan kesultanan Lingga (1787-1901), alat-alat rumah tangga masyarakat, perlengkapan ritual adat, koleksi uang lama yang pernah digunakan di Daik Lingga, koleksi tulang Gajah Mina, temuan-temuan barang antik bawah laut yang berusia ratusan tahun hingga alat musik dan alat pemutar piringan hitam (gramofon) yang juga pernah dipergunakan di Daik pada masa lalu.

DSCF8398

Dosen Seni Visual dan Pertunjukan Asia Tenggara di NUS, Dr Jan Mrazek melihat koleksi Museum Linggam Cahaya. (foto: hasbi)

DSCF8455

Objek wisata Air Terjun Resun. (foto: hasbi)

Setelah puas melihat seluruh koleksi dilantai satu dan dua, rombongan menuju situs benda cagar budaya (BCB) puing-puing Istana Damnah. Jaraknya hanya 500 meter dari museum.

Selesai disitu, rombongan sempat melihat-lihat Replika Istana Damnah. Kemudian kembali lagi ke Resun sekitar pukul 11.30 WIB menuju objek wisata Air Terjun Resun. Tak tahan melihat kesegaran air gunung yang mengalir, rombongan yang sebelumnya berpacu dengan waktu harus kembali lagi ke Pancur melanjutkan perjalanan laut ke Indragiri menyempatkan berenang.
“Sayang waktu kami cukup singkat. Karena harus ke Indragiri lagi setelah ini. Mudah-mudahan nanti kami bisa kembali lagi ke sini untuk beberapa hari,” timpal sejarawan seni asli Ceko pemain biola dan juga Dalang Wayang jawa dan pemusik serta penulis Fenomenologi Teater Wayang: Perenungan tentang Seni Wayang Kulit Jawa (KITLV Press, 200s) dan editor Teater Boneka di Indonesia Kontemporer: Pendekatan Baru untuk Pertunjukan Pertunjukan (pusat Studi Asia Selatan dan Tenggara, Universitas Michigan, 2002) ini di Resun Lingga.
Setelah puas dan berbasah-basah, rombongan kembali ke Tambatan Perahu desa Resun pada pukul 13.00 WIB menuju teluk Pancur. Melanjutkan lagi perjalanan laut menyusur sejarah Asia Tenggara dengan kapal layar ke pesisir pulau Sumatra.

DSCF8439

Kolam Istana Damnah. (foto: hasbi)

Indonesia Harus Belajar dari Singapura

Selain mahasiswa/i NUS ada juga Idham, Tenaga Ahli Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendekbud) Republik Indonesia yang ikut dalam rombongan. Kata Idham, tugasnya kali ini hanya melihat-lihat bagaimana Singapura menggarap kegiatan tersebut.

Indonesia kata Idham, perlu mengadopsi program seperti ini.

“Saya hanya melihat-lihat bagaimana mereka menggarap kegiatan seperti ini. Di Indonesia, program seperti ini juga boleh dibuat,” jelasnya.

DSCF8473

Mahasiswa UNS bersama Lingga Geografia. (foto: hasbi)

Dengan melibatkan mahasiswa dan universitas secara langsung, Idham mengatakan sejarah dan budaya Indonesia akan semakin terangkat. Tentunya dengan metode-metode pembelajaran baru yang lebih menarik seperti yang dilaksanakan UNS.

Untuk Lingga kata Idham yang baru pertama kali ia kunjungi, potensi sejarah dan budaya yang ada perlu diperkuat dengan tulisan-tulisan dan kerja keras.

“Intinya daerah harus terus bekerja. Tulisan-tulisan harus diperbanyak diwebsite-website. Barangkali bisa bekerjasama dengan yang lain,” pungkasnya.

DSCF8420

Tangga Istana Damnah. (foto: hasbi)

 

Hasbi Muhammad

Komentar

komentar